Rekam JeJak Sahabat Merah Putih Saat Erupsi Merapi Sejak 2 Nopember 2010 Di Selo – Boyolali

5 02 2011

¨ Deskrispsi “ Sahabat Merah Putih “

Awalnya kami mengira saat gunung merapi erupsi tanggal 26 Oktober 2010, merapi telah usai memenuhi janjinya. Dorongan itulah yang mengantarkan kami ke daerah Selo – Boyolali suatu daerah dengan zona 5 km (ring 1) dari puncak merapi di bagian utara.

Saat itu, tanggal 2 Nopember 2010 jumlah relawan hanya belasan orang dengan dukungan logistik cukup untuk memenuhi kebutuhan pengungsi 500 orang. Ditambah program trauma healing telah dirancang dan dipersiapkan sebelum kedatangan kami di wilayah gunung merapi.

Tetapi merapi berkehendak lain, tanggal 3 Nopember 2010, Merapi kembali melazimkan erupsinya saat matahari terbenam, dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang kami miliki, atas azas rasa kemanusiaan kami melakukan apa yang kami bisa dan ada. Tidak menjauh dari gunung merapi bukan berarti melawan kedikjayaan merapi melainkan selalu bersama masyarakat lereng merapi yang saat itu butuh “ditemani” agar segala keluh kesahnya di rasakan, agar segala ketakutannya ditanggung bersama dan agar selalu hadir dalam kehangatan satu keluarga yaitu Indonesia Raya.

Gelombang energi yang terdiri dari emosi keshalehan kian memuncak dengan rasa ingin berbuat lebih banyak “menemani” masyarakat lereng merapi yang tengah kesendirian akibat ketidakberdayaan pemerintah  daerah Boyolali mengatasi keluh kesah rakyatnya. Di Sanalah kami menyatukan tekad sesama relawan dengan membentuk wadah berwajah egalitarian berwawassan kebangsaan yaitu SAHABAT MERAH PUTIH. Kami mengalirkan virus “kebersamaan anak bangsa” berbuat untuk berbagi atas dasar Merah Putih. Model kerelawanan bercorak kultural menjadi pilihan beberapa sahabat kami yang telah bergabung dalam konsorsium yang dengan sendirinya telah dilegalkan semesta Gunung Merapi. Telah meyatukan hati dalam persaudaraan Sahabat Merah Putih yaitu ; Drupadi Foundation, Sehati Gapul Galas, Yayasan Rumah Hati, Mustang 88 FM, Nurul Dholam, DMC Dompet Dhuafa, Corps Dakwah Pedesaan, UIN Yogyakarta, UIN Jakarta, UPN Surabaya, UPN Yogyakarta, UNISSULA Semarang, UMS, aktivis pemuda Batu-Malang dan relawan lokal lereng merapi-merbabu.

¨ Evakuasi

Rabu, 3 Nopember 2010 sekitar pukul 18.00 masyarakat lereng gunung merapi kecamatan Selo – Boyolali berhamburan turun dari lereng gunung dengan menggunakan kendaraan roda empat pick up, kendaraan roda dua dan banyak juga yang berjalan kaki ketika gunung Merapi erupsi dengan suara bergemuruh dan suara petir di puncak merapi yang diakibatkan adanya penumpukan awan bermuatan vulkanik. Diperkirakan gelombang eksodus pengungsi berjumlah 6.000 orang terdiri dari bayi, anak-anak, dewasa dan lanjut usia.

Eksodus masyarakat lereng merapi yang mendiami bagian utara gunung merapi dapat dimaklumi karena berjarak hanya 4 km dari puncak merapi. Tim relawan yang saat itu berkekuatan 18 orang memaksimalkan pendampingan masyarakat lereng merapi yang hendak mengungsi dengan memberikan masker,  air minum dalam kemasan berbentuk gelas, 1 (satu) unit ambulance dan 2 unit kendaraan minibus untuk proses evakuasi. Tim menghentikan evakuasi karena sudah memastikan bahwa tidak ada orang yang tertinggal dengan menyisir jalan raya selo yang digunakan shelter oleh para pengungsi.

Tim selanjutnya menentukan spot untuk pengungsian di Desa Surodadi yang dianggap aman, belakangan diketahui bahwa desa tersebut hanya berjarak 8 km dari puncak merapi. Hal ini bisa dimaklumi karena pemerintah Boyolali tidak memiliki protap jalur evakuasi dan manajemen tanggap bencana yang well prepared. Selanjutnya Tim memberikan kepada pengungsi berupa selimut, tikar dan makanan selama di pengungsian.

Kamis, 4 Nopember 2010 sekitar pukul 17.30 tersiar kabar bahwa gunung merapi telah ber-erupsi kembali dengan kekuatan lebih besar dari tanggal 3 nopember. Sekitar pukul 19.00 Tim mendapat kabar dari Mas Marwan  salah satu tim SAR Selo bahwa diperintahkan untuk menjauh dari zana merapi sampai 20 km. Tim akhirnya memutuskan untuk melakukan evakuasi kembali. Kini Tim memiliki kerja yang berat karena pengungsi terdahulu harus ditambah dengan masyarakat Surodadi yang harus di ungsikan juga. Tim menentukan spot pengungsian di Desa Candisari – Ampel Boyolali, dengan keterbatasan logistik yang tersisa Tim membagikan kembali keperluan pengungsi berupa selimut, kebutuhan bayi dan supplay makanan berupa mie instant, beras, nasi bungkus, roti dan air minum dalam kemasan. Selanjutnya Tim mendirikan dapur umum.

 

¨ Supplay Logistik Dan Dapur Umum “

Selama pengungsi di camp pengungsian ( mendiami rumah penduduk dan kantor kepala desa yang berada di Ampel-Boyolali ) Tim yang saat itu telah memproklamirkan dirinya menjadi Sahabat Merah Putih mendirikan Dapur Umum yang berada di desa Ngegek Ampel – Boyolali memproduksi antara 1000 – 2000 nasi bungkus setiap harinya dan menghentikan kegiatan dapur umum sekitar tanggal 18 Nopember 2010 mengingat pengungsi telah kembali ke tempat kediaman masing-masing.

Saat itu Sahabat Merah Putih meng-cover kebutuhan pengungsi yang mendiami 33 titik pengungsian di wilayah Ampel Boyolali berjumlah 3,596 orang terdiri dari 97 balita, 500 anak-anak , 110 Lansia dan 2,999 berkisar usia 13-60 tahun. Selain distribusi nasi bungkus. Sahabat Merah Putih mensupplay logistik berupa ; mie instant (kemasan karton), air minum dalam kemasan (kemasan karton), beras (kemasan karung), selimut, tikar, kebutuhan mandi dan cuci, makanan bayi, susu, teh, gula, sarung, pakaian (baru), pakaian layak pakai, biskuit, kue kering, pampers, pembalut wanita dan lain-lain.

 

¨ Pemutaran Film “

Untuk menghidari rasa kejenuhan para pengungsi, Sahabat Merah Putih membuat program untuk malam hari berupa “ Barak theatre “ dengan memutarkan film sebagai berikut :

- Tanggal 4 Nopember di Aula Desa Candisari Judul Film My Name Is Khan

- Tanggal 10 Nopember di Musholla Dukuh Cuken Judul Film Laskar Pelangi

- Tanggal 11 Nopember di Musholla Dukuh Karangtalun Judul Film Laskar Pelangi

 

¨ Trauma Healing “

Tujuan kegiatan   :  Membantu mengurangi resiko trauma terutama bagi anak-anak korban dampak merapi yang berada di pengungsian daerah candisari dan sekitarnya.

Sasaran                :  Anak-anak pengungsian yang berasal dari lereng merapi bagian utara kecamatan Selo- Kabupaten Boyolali

 

NO

Tanggal Tempat Kegiatan Bentuk Kegiatan

1

9 Nov 2010 All Survey
2 10 Nov 2010 Gatak-Kembang Perkenalan dan game-game penyemangat. Peserta 20 anak
3 11 Nov 2010 a.  Cuken (pagi) 

b.  Gatak (sore)

Permainan, diselingi dengan pembekalan materi-materi keagamaan. 

Cuken 35 anak. Gatak 25 anak

4 12 Nov 2010 a.   Karang Talun 2 

b.   Gatak

c.    Balai desa Ngagrong

Permainan dan pembekalan materi agama
5 16 Nov 2010 a.    Gatak 

b.    Cuken

c.     Balai desa Ngagrong

d.    Tonolayu

e.     Surodadi ampel

Jumlah personel bertambah. Lima lokasi dalam satu waktu. Trauma healing yang dikemas dalam TPA.

 

¨ Pemeriksaan Kesehatan “

Dampak pengungsi di tempat pengungsian bukan saja secara phisikys tetapi juga berdampak timbulnya penyakit yang diakibatkan menurunnya daya tahan tubuh dan pola hidup selama dipengungsian. Konsorsium Sahabat Merah Putih yang turut membidani bidang kesehatan melakukan pemeriksaan dan pengobatan para pengungsi sebagai berikut :

-   Tanggal 4 Nopember 2010 bertempat di posko Surodari oleh Tim LKC Dompet Dhuafa. Dengan sasaran para pengungsi yang berasal dari lereng merapi yang tadi malam mengungsi di wilayah Surodadi

-     Tanggal 12 – 15 Nopember 2010 Tim relawan  human care Universitas Sultan Agung Semarang yang berjumlah 9 orang diketuai oleh Sapto Brastokoro terdiri dari dokter dan perawat melakukan tindakan pemeriksaan kesehatan kepada pengungsi di wilayah Ampel – Boyolali yang menyebar di beberapa titik pengungsian (rumah penduduk)

 

¨ Penyuluhan, Pemberian Vitamin Dan Pakan Ternak “

Dompet Dhuafa melalui “Kampoeng Ternak” melaksanakan kegiatan penyuluhan tentang ternak sapi dan pemberian nutrisi/vitamin di balai pertemuan dukuh plalangan pada hari rabu, 3 Nopember 2010 dengan dihadiri sekitar 60 peternak sapi.

Mengingat sejak erupsi besar mengalami puncaknya tanggal 5 Nopember 2010 hampir seluruh areal rumput di lereng merapi tertutup material abu vulkanik. Sahabat Merah Putih menyuplai pakan berupa rumput kepada peternak sapi yang berada di desa Lencoh pada tanggal 19 Nopember 2010.

 

¨ Penyaluran Hewan Qurban “

Menjelang hari raya Iedul Adha, Sahabat Merah Putih menerima hewan qurban sebanyak 18 ekor sapi dan 5 ekor kambing dengan sohibul qurban sebagai berikut :

- 1 ekor sapi atas nama Alm. H. Sudharmono Bin Wiriodirejo

-  1 ekor sapi atas nama Sri Adyanti Binti Sudharmono

- 1 ekor sapi atas nama  Ratu emma Norma Sudharmono

- 1 ekor sapi atas nama masing-masing Alm H. Sudharmono Bin Wiriodirejo, Kuneng Bin Abdullah B.M, Andi Saming Binti Andi Atjo

- 1 ekor sapi atas nama masing-masing H. Tantyo Aji Pramudyo Bin Sudharmono, Mnawarah Binti Bau Kuneng, Dhaneswara S Bin Tantyo AP, Dhani Isti Aditiyanti Binti Tantyo AP, Normastuti Adhidni Murkhimidah Binti Tantyo AP.

- 1 ekor sapi atas nama Ny. Jundan

- 2 ekon sapi pemberian dari Jamaah Masjid Al-Ikhlas

-  10 ekor sapi pemberian dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pemberian hewan qurban tersebut telah disalurkan sebagai berikut :

-  6 ekor sapi dan 5 ekor kambing di wilayah Ngegek dan Candisari ( Kecamatan Ampel Boyolali )

- 1 ekor sapi di plalangan Selo – Boyolali

- 1 ekor sapi di Jaraan Selo – Boyolali

- 5 ekor sari di daerah pabelan – magelang

- 1 ekor sapi di UIN Yogyakarta

- 1 ekor sapi di Muntilan – Magelang

- 1 ekor sapi  di Salam – Magelang

- 2 ekor sapi di daerah boyolali

 

¨ Investigasi Kerugian Material “

Insfrakstruktur

a. Bangunan

Kondisi rumah tinggal masyarakat seluruhnya hampir beratap abu tebal, hampir 80% kondisi kontruksi atap genting bangunan rumah tinggal banyak melengkung ke arah bawah karena banyak menanggung beban abu yang menempel (serta hujan yang tidak stabil (rintik-rintik) menyebabkan kondisi atap semakin banyak menangung beban abu). Secara khusus kondisi rumah yang hancur kurang lebih sebanyak 55 rumah tinggal, 51 kandang ternak, 3 masjid, 2 sekolah dasar  (spesifikasi kerusakan: kontruksi atap, dapur, teras  dan rumah roboh total).

b. Penerangan

Kondisi dari pertama kali gunung Merapi erupsi hingga saat laporan ini dibuat mengalami mati total, penerangan yang ada menggunakan sentir/obor dari bahan bakar minyak tanah dan solar yang sangat terbatas disetiap dukuhnya (biasanya setiap malam meraka berkumpul menjadi satu untuk mendapatkan kebutuhan penerangan). Mereka (para penduduk tempatan) menuturkan akan harapan bantuan genset untuk penerangan sementara serta bahan bakar minyak tanah dan solar yang mereka butuhkan untuk penerangan rumah serta penerangan jalan.

c. Pengairan

Sumber pengairan daerah sekitar Selo-Boyolali sangat terbatas. Pengairan menggantungkan pada sumber besaran debit air, selain itu juga terbatasnya sumber mata air pada daerah tersebut yang letaknya kurang lebih hampir memerlukan 5-10 KM panjang pipa air menuju sumbernya. System pengairan masyarakat menggunakan model paralel disetiap dusunnya, selain itu minimnya bak penampungan di setiap dusun yang hampir dihuni lebih dari 100 jiwa dari data jiwa dusun yang terkecil. Alur atau denah jalannya pipa air menuju setiap dukuh melewati jalur rawan/ bahaya berupa tebing-tebing terjal serta aliran sungai seperti sungai jalan air dan jalur lahar gunung Merapi. Sumber mata air warga sekitar dari sumber kali Apu, kali Sepi, sehingga memerlukan bantuan tiang-tiang pancang untuk menghubungkan pipa air yang melintasi tebing-tebing disekitar gunung Merapi. Kondisi pengairan masyarakat setelah terjadinya erupsi gunung Merapi sangat menghawatirkan, debit air yang diterima masyarakat sangat terbatas, tiang-tiang pancang pipa penghubung tebing-tebing juga tidak normal kembali, banyak yang retak dan hampir terlepas disebabkan gerakan tanah dari gempa tektonik juga dikarenakan kedalaman tiang pancang yang tidak ergonomis. Selain itu pipa-pipa air banyak juga yang terputus dan hancur akibat terkena tumbukan patahan pohon serta batu-batuan aliran lahar dingin. Selain air dan sanitasi, kebutuhan masyarakat akan MCK juga sangat kurang jumlah maupun kwalitasnya.

2.       Pendidikan

Pendidikan masyarakat sekitar gunung Merapi di daerah sekitar Selo, semenjak erupsi terjadi mengalami kelumpuhan.  Sekolah-sekolah sudah mulai buka sejak tanggal 22 nov 2010 tetapi masih belum berjalan dengan lancar  karena status merapi sampai saat ini masih awas. Satu sekolah mengalami kerusakan di daerah Tlogolele.

3.       Kesehatan

Kecuali penyakit  ISPA, batuk-pilek, tidak ada keluhan berarti dari masyarakat, baik balita-dewasa maupun lansia. Namun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dari bahaya debu abu vulkanik kurang mendapat perhatian serius baik dari msyarakat itu sendiri maupun pemerintah setempat.

4.       Pertanian

Semenjak erupsi terjadi pertanian warga lumpuh total dan mengalami kerugian besar karena gagal panen dan berhentinya gerak pokok perekonomian masyarakat. Kurang lebih untuk mengembalikan stabilnya gerak pertanian masyarakat baru dapat di lihat hasilnya 4 bulan ke depan. Kebutuhan akan pupuk sangat diharapkan seperti Urea, Za, pupuk organic serta kebutuhan bibit tanaman kol, wortel, daun bawang, tomat, kacang panjang, dan jagung.

 

¨ Rehabilitasi “

Terhitung sejak tanggal 18 Nopember 2010, posko Sahabat Merah Putih di Ngegek – Ampel dipindahkan kembali ke posko semula yaitu di Jaraan Selo – Boyolali mengingat pengungsi sudah kembali ke tempat kediaman masing-masing.

Adapun program pendampingan kepada masyarakat lereng merapi lebih di fokuskan pada rehabilitasi atas  erupsi gunung Merapi, walau BPPTK Yogyakarta belum menurunkan status awas program dijalankan di areal lereng merapi sebagai berikut :

- Pembersihan Abu Vulkanik

Program pembersihan abu vulkanik di laksanakan pada infrastruktur jalan dan sekolah sejak tanggal 19 Nopember dan berakhir tanggal 23 Nopember 2010. Program ini bertujuan untuk normalisasi sarana jalan yang digunakan masyarakat ditambah untuk mendorong masyarakat agar turut bersama membersihkan material abu vulkanik yang memenuhi areal pemukiman.

- Investigasi & Rekomendasi

Relawan Sahabat Merah Putih melakukan investigasi atas dampak erupsi merapi masyarakat kecamatan Selo terutama yang tinggal di lereng merapi. Temuan hasil investigasi tersebut telah di rekomendasikan ke pemerintah daerah yaitu Bupati Boyolali dengan nomor surat : 010/DMS-S.PUTIH/XI/2010 tertanggal 25 Nopember 2010 untuk segera ditindaklanjuti.

Selain hasil investigasi yang telah direkomendasikan, Sahabat Merah Putih memberikan bantuan logistik material pipanisasi untuk sanitasi kepada masyaakat dukuh Jaraan dan Stabelan.

- Support Logistik Sembako

Program Support logistik sembako dilaksanakan pada tanggal 25-26 Nopember 2010 dengan rincian sebagai berikut :

- Plalangan              : 185 KK

- Jaraan                    : 120 KK

- Jerakah                  : 230 KK

- Sepi                        : 260 KK

- Bakalan                : 120 KK

- Sumber                  : 86 KK

-  Stabelan                : 115 KK

- Ranang                  : 65 KK

-  Belang                   : 55 KK

-  Takeran                 : 117 KK

-  Klakah Bawah      : 195 KK

- Klakah Atas          : 170 KK

- Lencoh                   : 85 KK

- Wates                    : 60 KK

- Temu Sari              : 98 KK

 

Selanjutnya program Sahabat Merah Putih dilanjutkan dengan rencana pendirian kepustakaan yang ditempatkan di Desa Lencoh dan pendampingan peningkatan sosial ekonomi masyarakat lereng merapi melalui eko wisata yang mengedepankan masyarakat berbasis pertanian dan peternakan. Ditambahkan pula akan dilakukan pemetaan oleh Bakorsutanal yang mulai disosialisasikan tanggal 12 Februari 2011.

Salam,

Merapi Satukan Hati !

 

 

 

 

 

 





Misi Kemanusiaan Peduli Merapi, Rabu 3 Nopember 2010

3 11 2010

Sejak keberangkatan Tim Relawan yang terdiri dari Drupadi Foundation-Sehati Gapul Galas-Yayasan Rumah Hati yang tergabung dalam Mustang Peduli 88 FM tiba di Cangkringan pada hari Senin 2 Oktober 2010 pukul 11.00 WIB. Selanjutnya Tim langsung berkoordinasi dengan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa.

Koordinasi yang semula sudah dijembatani oleh Abi, memutuskan bahwa spot misi kemanusiaan di sektor utara merapi yaitu di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali – Jawa Tengah mengingat bahwa keberadaan Tim Relawan dirasakan sangat kurang ketimbang di wilayah selatan.

Setibanya di Selo Tim telah menempati posko dengan jarak sekitar 6 KM dari puncak Merapi dengan ketinggian 1500 dari permukaan laut. Hal inilah seluruh Tim relawan menyesuaikan kondisi suhu yang sangat dingin di tambah hujan abu vulkanik yang sering turun.

Setelah melakukan maping di Selo, Tim telah menetapkan beberapa program yang akan dijalankan dalam status awas merapi sebagai berikut ;

1. Melakukan pendampingan dengan 5 titik pengunsian dengan jumlah pengungsi 673 pengungsi dengan perincian sebagai berikut :

NO

KELOMPOK PENGUNGSI

JUMLAH PENGUNGSI

DESA ASAL

BALITA

ANAK-ANAK

DEWASA

LENSIA

1

JARA’AN I

14

16

61

9

Cangkol

2

JARA’AN II

2

8

29

4

kuncen – Tegal Seruni

3

SELO PASS

75

96

183

65

Nalangan Lembah

4

P. PONIJEM

7

12

16

51

Jara’an

5

P. SUKARDI

6

19

Jara’an

JUMLAH

104

132

308

129

TOTAL JUMLAH PENGUNGSI

673

2. mendistribusikan jumlah bantuan yang di bawa oleh Tim dan logistic makanan berupa mie instan. Mengingat para pengungsi (biasanya datang pada malam hari di lokasi makanan) masih kekurangan bantuan makanan.

3. Trauma Healing ; motivasi – empaty – game dan Nonton Bareng

4. Evakuasi ; mempersiapkan evakuasi warga di lereng merapi yang jaraknya hanya 4 KM dari puncak Merapi dengan menyiagakan 1 mobil ambulance dan 2 kendaraan mini bus.

Semalam tim juga telah menyalurkan logistic untuk keperluan pengungsi berupa tikar sebanyak 35 buah, selimut 40 buah dan bad cover 6 buah (untuk keperluan bayi) rencananya nanti malam tim akan mendistribusikan sisa logitik.

Saat ini posko relawan sangat membutuhkan logistik, selimut, tikar dan perlengkapan bayi. Dan untuk mempermudah pendistribusian di mohon kepada sahabat di Jakarta agar dapat menstranferkan donasi berupa uang ke koordinator logistik atas nama Farezky Nursanly Bank Mandiri Cabang Juada Bekasi No. A/C 156-0001442096.

 

Demikian Agustian dan Aco melaporkan dari lereng Merapi

Tetap Semangat !!! Walau Kedinginan brrrrrrr……………………………





DESKRIPSI SEKOLAH ALAM ANAK SHOLEH

25 05 2010

Pendidikan yang berparadigma BEING adalah fenomena yang harus mengedepan di dalam proses pembelajaran. Paradigma ini memfasilitasi kondisi belajar yang diisi dengan pembentukan karakter (character building) selain internalisasi wawasan siswa yang bernuansa kognitif. Diharapkan dengan pengetahuan yang mumpuni dan akhlak terpuji serta kecakapan yang dimiiki akan dapat membekali para siswa ke depan.

Mendidik dengan cinta, sebuah pendekatan yang sering dilakukan di Sekolah Alam Anak Sholeh. Para guru  dalam aktifitas sehari-hari selalu  menghargai dan mengapresiasi hasil karya siswa. Hal ini tidak lain bertujuan agar siswa selalu termotivasi untuk mengikuti proses KBM dengan optimal. Selain itu mendidik dengan cinta juga berarti mengupayakan beberapa prinsip pembelajaran yang harus direalisasikan di kelas.

Adapun beberapa prinsip pembelajaran yang sering dilakukan adalah: 1) perhatian yang diberikan dalam belajar, 2) motivasi dan inspirasi diberikan secara kontinyu kepada siswa agar terbentuk karakter belajar yang kuat untuk mendapatkan pengalaman belajar (learning experience) yang terbaik bagi setiap siswa, 3) perbedaan individu ( individual differences ) direalisasi dalam bentuk mengakomodir setiap gaya belajar siswa yang berbeda sehingga memungkinkan terjadinya harmonisasi sinergi di antara guru dan peserta didik, 4) pemberian hadiah dan hukuman ( reward and puishment ) sudah menjadi bagian dalam aktifitas pembelajaran di sekolah Alam Anak Shleh. Penegakan disiplin, bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan dan mentaati tata tertib sekolah adalan rambu-rambu yang dipakai untuk menentukan bentuk hadiah dan hukuman yang patut diberikan pada siswa yang terkait.

Pembelajaran menurut Chomsky adalah berorientasi pada perkembangan pada sisi pemikiran dan pengalaman yang dialami siswa. Pembelajaran yang optimal oleh para guru sekolah Alam Anak sholeh dilengkapi dengan berbagai perangkat yang sangat meenunjang keberhasilan pencapaian prestasi yang diharapkan. Perangkat tersebut terdiri dari 1) RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), 2). aktifitas pengalaman belajar (learning experience), 3) Media Pembelajaran yang menarik 4) pemilihan metode pembelajaran yang sesuai, 5) Pengembangan Referensi dan buku ajar,  dan 6) pengembangan alat evaluasi.

Selain itu pembelajaran yang dilakukan di sekolah kami selalu berorientasi pada penghargaan atas kebaikan-kebaikan yang dilakukan siswa dalam pembelajaran ketimbang lebih menitikberatkan pada kesalahan-kesalahan yang siswa lakukan. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Irawati Istadi dalam bukunya Hadiah dan Hukuman yang Efektif, seorang anak tidak akan berkembang dengan optimal jika guru/orangtua selalu memfokuskan pada kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa/anak. Sebaliknya anak akan berkembang  dengan baik jika orang tua/guru lebih banyak memperhatikan kebaikan-kebaikan yang telah siswa/seorang anak lakukan. Dengan demikian keberhasilan siswa dalam belajar akan sangat dipengaruhi oleh treatmen positif yang diberikan oleh guru terhadap siswa.

Kelas yang baik tidak terlepas dari kepribadian seorang guru yang bisa menjadi contoh bagi setiap siswa dalam kesehariannya. Kepribadian guru yang baik dan menarik menurut Laela Mona di harian Republika tanggal 23 Januari 2010  minimal harus mempunyai tiga hal, yakni: 1) Brain concept, merefleksikan pengembangan wawasan dan pengetahuan yang dilakukan oleh guru selain menguasai disiplin ilmu yang diampu, 2) Behavior concept, merefleksikan adanya kecerdasan emosional seorang guru dalam berkomunikasi dengan orang lain, sehingga guru dapat mengatur emosi, membaca emosi orang lain dan mampu membantu menyelesaikan konflik yang mungkin terjadi di antara teman sejawat, 3) Beauty concept, merefleksikan keeleganan seorang guru dalam beraktifitas dengan adanya kemampuan mengatur cara berbicara, bersikap, merawat diri dan tampil dengan baik di hadapan siswa dan rekan-rekan guru lainnya.

Membekali kecakapan hidup (life skill) pada siswa adalah menjadi  tanggung jawab yang diemban oleh para guru . Materi kecakapan hidup dirancang dalam proses pembelajaran aktifitas pagi (morning activities)  dengan memberikan kesempatan pada siswa merawat dan menyiram tanaman disekolah, out bound dan environment care (peduli lingkungan). Dengan demikian diharapkan para siswa dapat menumbuhkan sikap tanggung jawab, peduli dan kesanggupan menghadapi tantangan hidup ke depan.

Dengan Kepribadian yang menarik, perlakuan yang pandai menghargai hasil karya dan prestasi siswa, aplikasi prinsip-prinsip pembelajaran dalam atmosper kelas, pemenuhan perangkat-perangkat pembelajaran yang dibutuhkan serta penanaman kecakapan hidup pada siswa dapatlah diharapkan akan terwujud sinergi yang harmonis dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas.





PENDIDIKAN MULTIKULTUR MASYARAKAT BEKASI SEBAGAI WUJUD MASYARAKAT MAJEMUK

25 05 2010

Keberagaman (diversity) masyarakat Bekasi adalah sesuatu yang unik untuk dibahas. Keberagaman tersebut bisa dicirikan dengan beragamnya kelas (strata), agama, dan bahasa, termasuk gender, orientasi seksual, usia serta keterbelakangan mental dan pisik. Kesemua itu adalah bagian dari elemen-elemen budaya masyarakat  Bekasi yang begitu beraneka ragam corak dan bentuknya.

Terkadang ekspos dari media seperti televisi, radio dan media lainnya memberikan ruang bagi anggota masyarakat untuk bersikap sterotype terhadap sebuah typical karakter masyarakat atau etnik tertentu. Kalau digambarkan seperti sebuah tayangan TV tentang film Mafia Italy yang menggambarkan betapa kejamnya kelompok mafia tersebut terhadap musuh-musuhnya antar geng. Hal ini membuat stereotype sebagian anggota masyarakat beranggapan bahwa orang-orang  Italy terbiasa dengan pola hidup seperti itu. Tentu hal ini akan merugikan etnik Italy ketika mereka bergaul dan bersosialisasi di dalam masyarakat.

Peristiwa di atas adalah sebagai salah bentuk miskonsepsi yang ada pada masyarakat kita. Oleh karena itu peran kita sebagai guru adalah membantu para siswa untuk dapat menginterpretasi dan menganalisa petunjuk-petunjuk budaya yang ada pada masyarakat sekitarnya dan yang dihadapinya sehari-hari, sehingga akan meminimalisir kesalahanpahaman terhadap persepsi budaya di luar dirinya.

Pendidikan Multikultur adalah suatu bentuk pendidikan yang mengacu pada pemahaman terhadap keberagaman bentuk budaya yang ada di dalam sebuah masyarakat melalui proses penginterpretasian dan penganalisaan terhadap isyarat-isyarat budaya tertentu di masyarakat baik dalam bentuk skala mikro maupun makro.

Dengan mengaplikasikan pendidikan multikultur akan memberi ruang kepada para siswa untuk memiliki kemampuan beradaptasi terhadap beragam warna dan corak budaya yang ada di sekitar lingkungannya dan pula membekali siswa untuk tidak selalu mengukur segala sesuatu berdasar ukuran kebiasaannya sendiri yang membawa kepada kesalahpahaman di lingkungan masyarakatnya.

Philip Randolph dalam pidatonya pada momen “Washington DC Movement Converence” di Detroit menyatakan kesamaan (equality) adalah the heart and essence of democracy, freedom and justice (jantung,dan esensi dari demokrasi, kebebasan dan keadilan). Salah satu kajian yang amat menarik dalam kajian pendidikan multikultur adalah equality.

Equality (kesamaan) adalah suatu kondisi di mana setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama dalam memanfaatkan fasilitas umum yang diberikan oleh pemerintah, seperti pendidikan, kesehatan, jalan, dan lain sebagainya. Prinsip kesamaan ini meniadakan perbedaan baik ras, agama, latar belakang sosial, bahasa, gender ataupun etnik yang ada di masyarakat dalam pemanfaatan sebesar-besarnya fasilitas umum yang tersedia di lingkungannya. . Prinsip kesamaan ini memberikan kesempatan setiap anggota masyarakat untuk memiliki pengetahuan, skill, sikap yang menjadi bekal mereka untuk layak hidup di masyarakat.

Selain itu memahami makna kebudayaan adalah juga menjadi point penting untuk difahami oleh para siswa. Menurut Goodenough, kebudayaan adalah cara seseorang dalam menerima , meyakini, mengevaluasi dan berprilaku. Hal ini berarti budaya akan memberikan pembelajaran kepada anggota masyarakat dengan melalui beberapa pendekatan diawali dengan menerima kemudian meyakini dan menilai budaya tersebut dan akhirnya menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan.

Begitu banyak Kemajemukan (pluralistic) masyarakat yang ada di  Bekasi, sehingga sangatlah penting dikaji tentang kemajemukan dan dampaknya di masyarakat. Kemajemukan adalah suatu kondisi masyarakat yang terkadang ada kemiripan antara bentuk budaya tertentu, terkadang pula begitu besarnya jarak perbedaan antara suatu kebiasaan yang dilakukan oleh tipikal masyarakat tertentu.dibanding dengan kebiasaan masyarakat lain. Hal inilah yang menjadi pemicu kesalahpahaman antar sesama dan terkadang berujung pada permusuhan dan kebencian.

Selain itu memahami konsep demokrasi (democracy) adalah suatu hal yang amat perlu dilakukan, karena konsep ini memberikan kesempatan kepada pihak di luar diri seseorang untuk mengerti dan memahami adanya perbedaan antara satu dengan lainnya, terutama dalam hal perbedaan beropini. Demokrasi didesain untuk mempromosikan nilai-nilai kebaikan yang ada di dalam masyarakat. Hal ini dilakukan dalam rangka menghilangkan penyalahgunaan system dan wewenang dari para penguasa atau pemerintah. Ini berarti rakyat memiliki hak mengungkapkan aspirasi atau pendapatnya yang sesuai dengan naluri pilihannya. Hal ini dapat dilihat ketika adanya pemilihan Walikota, di mana setiap warga Kota Bekasi berhak menentukan pilhannya dan  dilindungi dari paksaan ataupun  provokasi dari pihak manapun.

Perbedaan gaya hidup setiap warga di  Bekasi akan mempengaruhi strata sosial atau kelas di mana warga masyarakat itu berada. Struktur kelas  di dalam masyarakat Bekasi setiap warga yang walaupun awalnya berasal dari kelas bawah, akan tetapi bila ia berusaha keras untuk belajar dan belajar menempuh pendidikan tinggi, Maka orang tersebut akan dapat menembus kepada sturuktur kelas yang lebih tinggi dalam masyarakat (meritokrasi system).

Selanjutnya  strata sosial akan ditentukan oleh beberapa hal di antaranya adalah  pendapatan, pendidikan, pekerjaan, kesejahteraan dan kekuatan di dalam masyarakat. Ini berarti tingkat sosial seseorang dapat diukur berdasarkan beberapa indikator di atas. Makin tinggi nilai indicator yang mereka miliki maka akan semakin baik strata sosial seseorang di dalam masyarakatnya. Sebaliknya makin rendah indicator tersebut, maka strata sosial seseorang akan kurang di mata masyarakat.

Kajian-kajian di atas akan dapat dikembangkan dalam rangka memenuhi akan kebutuhan masyarakat di  Bekasi yang majemuk dan sudah pasti berbeda karakter, kebiasaan, bahasa, dan budaya secara keseluruhan. Untuk itu amatlah penting menenggarai berbagai kepentingan yang kemudian dijadikan bahan kajian dalam pendidikan multikultur di Bekasi.

Konsep pendidikan multikultur perlu dikembangkan dan direalisasikan dalam wujud lebih real di setiap jenjang sekolah di  Bekasi. Pengembangan konsep ini bisa dilakukan dengan membrekdown kebutuhan-kebutuhan apa saja yang hendaknya dipenuhi sampai pada lapisan gress root, agar dapat memberikan kuda-kuda yang kuat pada warga  Bekasi dalam bermasyrakat. Selain itu  juga yang terpenting adalah dengan menjadikan pendidikan multikultur sebagai sebuah agenda pembelajaran di sekolah akan membantu Pemda  Bekasi untuk membangun tipikal masyarakat yang maju dan berbudaya tinggi. Dengan karakter saling menghargai, membangun, mengingatkan dan menginovasi demi percepatan kemajuan Kota Bekasi yang  Agamis dan Cerdas.





UPAYA PERCEPATAN PERTUMBUHAN PEMBANGUNAN PEDESAAN MELALUI PERAN BIROKRASI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

1 04 2010

A. Deskripsi

Sejalan bergulirnya waktu paradigma pembangunan desa bukan lagi wewenang otoritas pemerintah pusat tetapi wewenang pemerintah daerah lebih dominan dalam menata, merencanakan dan membuat kebijakan pembangunan sesuai yang di amanahkan oleh UU No. 32 Tahun 2004. Implikasi dari kebijakan otoritas pemerintah daerah adalah untuk memudahkan dalam pencapaian tingkat kesejahteraan masyarakat.

Perubahan struktural kepemerintahan yang dimulai sejak tahun 1999 tentu membawa efek kejut ( shock culture) pada struktur kepemerintahan yang dekat dan langsung bersinggungan dengan masyarakat yaitu pemerintah desa. Karena domain konservatisme dalam penyelenggaraan kepemerintahan desa masih bersifat layanan publik dan administrasi belaka. Hal ini dapat menimbulkan paradoksal dari semangat otoritarian dalam mengembangkan potensi desa menjadi stagnasi akibat struktur birokrasi masih dipahami sebatas servis public.

Bisa dimaklumi bahwa konservatisme layanan publik terjadi akibat kebijakan pemerintah orde baru yang mengatur dan mengendalikan kepemerintahan secara terpusat. Pemerintah daerah hanya menjalankan kebijakan-kebijakan dari pemerintah pusat. Pada wilayah pedesaan untuk tata cara pemilihan kepala desa campur tangan pemerintah sangat berpengaruh dalam mengawasi proses pemilihan ( PP No. 5 tahun 1979 ).

Meniadakan peran political society dengan menciptakan massa mengambang ( floating mass ) sehingga infra struktur politik pada wilayah pedesaan kehilangan kontrol sosial politik terhadap berlangsungnya proses kepemerintahan. Di tambah lagi penyeragaman organisasi-organisasi yang berkarakter civil social organization ( CSO ) seperti untuk organisasi petani yang “direstui” hanya HKTI dan untuk nelayan hanya HSNI dan organisasi yang bercirikan gerakan ekonomi kerakyatan pun yang di restui hanya KUD sebagai satu-satunya koperasi yang sah ( Inpres No. 4 tahun 1978 ).

Kini di era keterbukaan dan transparansi keterlibatan desa dalam pembangunan merupakan pilar penyanggah ketahanan ekonomi negara karena peran  keikutsertaannya sebagai indikator keberhasilan pemerintah dalam menjalankan konstitusi negara.

Oleh sebab itu desa perlu diperhatikan secara khusus ( eksklusif ) dalam menata, merencanakan  dan melakukan social engineering ( rekayasa sosial ) sehingga harapan-harapan masyarakat pedesaan yang sejahtera dapat terwujudkan. Lembaga pemerintah yang paling berperan dalam pemenuhan harapan-harapan itu adalah pemerintah desa dan organisasi-organisasi penggerak desa seperti BPD ( Badan Perwakilan Desa ) LPM ( Lembaga Pengembangan Masyarakat ) Karang Taruna, PKK maupun organisasi non pemerintah lokal yang bercirikan civil social organization.

Potret buram pedesaan sebanyak 70.611 pedesaan dari seluruh provinsi di Indonesia yang dinyatakan tertinggal  sebanyak 32.379 desa. Penyebabnya pun beragam dari keterbatasan sumber daya alam, tidak terbangunnya civil society, dan rendahnya pelaku SDM. Pada tingkat partisipasi hanya menjalankan secara reaktif dari alur birokrasi dan ketidakmampuan dalam membuat social planning ( perencanaan sosial ) karena organisasi SDM tidak menstimulan take part terhadap wilayah sosial ( masyarakat ).

B. Masalah Pedesaan

Hampir 50 % desa teridentifikasi tertinggal dari jumlah desa di seluruh provinsi Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik ( BPS ) yang dikelola dari Susenas Panel Maret 2007 dan 2008 angka prosentase kemiskinan di pedesaan masih signifikan ketimbang angka kemiskinan di perkotaaan. Indikasi kemiskinan bertolak dari kurangnya pendapatan perkapita penduduk dari ketercukupan kes

ediaan pangan dalam hal ini adalah beras (28,64 %) komoditi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakmampuan masyarakat desa dalam memenuhi kebutuhan dasar ( basic needs) disebabkan oleh ketidaktersediaan lapangan pekerjaan, bergesernya fundamental ekonomi pedesaan yang bercorak agraris menjadi residential area dan adanya industri bukan padat karya melainkan padat modal dan tuntutan kemampuan SDM dalam rekayasa teknologi. Disamping itu  keterbatasan potensi sumber daya alam juga mempengaruhi struktur ekonomi pedesaan. Ketidakcerdasan dalam mengkreasi potensi desa akibat lemahnya partisipasi masyarakat desa dan kepemimpinan elit ( kepala desa, tokoh masyarakat, pemuka agama ). Dalam memuaskan hubungan relasi sosial para elit desa lebih memilih bertindak secara personal dalam mengatasi masalah-masalah sosial.

Garis Kemiskinan,  Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin  menurut Daerah, Maret 2006-Maret 2007

Daerah/Tahun Garis kemiskinan

Makanan

(Rp/kapita/Bulan)

Bukan  makanan

Total Jumlah penduduk miskin (juta) Persentase penduduk miskin
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Perkotaan

Maret 2006

Maret 2007

Pedesaan

102.907

116.265

Kota + desa

114.125

123.992

126.163

132.258

102.907

116.265

114.125

123.992

48.127

55.683

27.677

30.572

37.872

42.704

174.290

187.942

130.584

146.837

151.997

166.697

14,49

13,56

24,81

23,61

39,30

37,17

13,47

12,52

21,81

20,37

17,75

16,58

Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006 dan Maret 2007

C. Paradigma Baru Aparat Desa Dan Organisasi Penggerak Desa

  1. Inspirator dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat

Untuk memenuhi harapan masyarakat desa adalah dengan meniadakan keluhan yaitu mampu menyelesaikan masalah secara terencana dan terukur. Keluhan masyarakat desa tidak jauh berkutat pada pemenuhan kebutuhan dasar hidup ( KDH ). Untuk memenuhi KDH harus tersedianya akses pekerjaan yang membuahkan pendapatan. Persoalannya adalah bagaimana menciptakan ruang pekerjaan di pedesaan. Oleh sebab itu diperlukan kemauan yang kuat untuk merubah paradigma lama yang semula bersifat administratif menjadi kewirausahaan.

Komitmen dan team work ( seluruh aparat desa dan organisasi penggerak desa ) dalam melakukan perencanaan sosial ( social planning )  menstimulasi visi dan misi yang dirancang secara bersama-sama.

Tentu dukungan kepemimpinan lokal dalam menjalankan mesin birokrasi dan organisasi memiliki efek dominan terhadap keputusan, kebijakan, dan pilihan yang tepat dalam mengurai suatu masalah. Hal ini yang disebutkan oleh Max weber bahwa peniadaan keluhan yang berlangsung dimasyarakat menjadi walfare karena secara tidak langsung elit desa terbentuk menjadi natural leader.

Kepuasan pelanggan adalah kepuasan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup, semakin terjadi peningkatan kualitatif semakin menidentifikasi keberhasilan para pelaku SDM dalam melakukan social planning.Membangun awarness secara simultan antara aparat desa, organisasi penggerak desa dengan objek sasaran ( masyarakat desa ) dalam pemenuhan kebutuhan dasar hidup menjadi energi yang berpotensi inspiratif, kreatif dan dinamis dengan begitu sangatlah mudah menciptakan lahan pekerjaan baru di pedesaan.

2. Model layanan masyarakat ( CHANGE )

Charity ; Kasih sayang

Memberikan pelayanan dengan rasa kasih sayang tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, dan status sosial.

Hear ; Mendengar

Mau mendengar terhadap kritik dan saran dari semua komponen masyarakat desa sebagai koreksi dan dijadikan pertimbangan dalam memutuskan kebijakan publik.

Active ; Aktif

Memberikan layanan kepada semua lapisan masyarakat secara aktif agar segala bentuk pelayanan publik  secara optimal. Ketidakdisiplinan aparat desa terhadap kualitas pelayanan dapat mempengaruhi akuntabilitas pemerintah desa  dimata masyarakat

sayNo ; Katakan tidak

Dalam mewujudkan  CLEAN GOVERNMENT  harus  berani  “ katakan tidak “ terhadap segala bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme yang dapat menyengsarakan dan merugikan masyarakat serta negara.

Go ; Pergi

Pemberian pelayanan terhadap masyarakat KECIL bukan hanya sebatas ruang lingkup kantor desa saja melainkan proaktif dan penuh inisiatif bekerja guna meningkatkan mutu layanan

Empaty ; Peduli
Birokrasi pedesaan bukan saja sebagai mesin administratif birokrasi berjenjang yang bermula dari pusat, Melainkan birokrasi yang mampu bersentuhan dan berdekatan langsung dengan masyarakat yang dijadikan objek layanan. Inisiatif layanan “pendekatan” ini berbentuk peduli yaitu tanggap dan berreaksi langsung terhadap pesrsoalan-persoalan yang muncul.

3. Mampu merencanakan pembangunan secara terukur

Perencanaan pembangunan Nasional, yang secara teknis pelaksanaanya Sejauh ini masih diatur dalam surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dengan Menteri dalam Negeri yang setiap tahun menerbitkan petunjuk Teknis dan tata cara penyelenggaraan Musrenbang. Surat edaran ini Diterbitkan sambil menunggu ditetapkannya peraturan pemerintah yang mengatur tatacara Musrenbang. Hanya saja proses perencanaan sampai penetapan APBD pemerintah desa umumnya mengabaikan proses ini karena dianggap pada tingkat pengambil kebijakan design-design desa yang direncanakan tidak di agendakerjakan.

Namun bila komitmen pemerintah desa “ngotot” maka pemerintah desa dapat melakukan  “pengawalan”  Musrenbangdes yang bukan saja memuat pembangunan infrastruktur tetapi cerminan keinginan masyarakat pedesaan dalam partisipasi pembangunan. Selanjutnya bersama pemerintah desa dan masyarakat desa secara cermat dan seksama mengikuti  proses perencanaan dan penetapan APBD berlangsung dalam tahapan berikut ini:

Tahap pertama: penjaringan aspirasi masyarakat melalui musywarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) dari tingkat kelurahan/desa hingga kabupaten/kota. Dari proses ini, anggaran diharapkan mencerminkan aspirasi masyarakat, bukan cerminan kepentingan kelampok tertentu atau kepentingan elite politik yang berkuasa.

Tahap kedua: penyusunan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) yang dilakukan oleh TAPD (Tim Anggaran Pemerintah daerah).

Tahap ketiga: penyusunan KUA (Kebijakan Umum Anggaran),dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan belanja dan pembiayaan serta asumsi yang mendasari untuk periode satu tahun. Ini merupakan farum bersama antara pemda dan DPRD untuk menyusuk kebijakan umum APBD yang akan disusun

Tahap keempat: penyusunan PPAS (prioritas dan Plafon Anggaran Sementara) yang merupakan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang di berikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD. Forum ini merupakan forum bersama antara pemda dan DPRD untuk menentukan skala prioritas yang akan didanai.

Tahap kelima: penyusunan RKA-SKPD (Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah). Ini adalah forum bersama antara perangkat daerah/dinas dengan mitra kerja DPRD yakni komisi-komisi di DPRD.

Tahap keenam: RAPBD (Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah), yang merupakan proses kompilasi RKA-SKPD dari seluruh SKPD/dinas/kantor/badan oleh pemda.

Tahap ketujuh: APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah).pembahasan dan penetapan APBD merupakan proses pembahasan RAPBD antara pihak pemda dan DPRD, dengan hasil akhir adalah draf akhir yang kemudian disahkan menjadi peraturan daerah(Perda).

Selain keterlibatan secara tidak langsung dalam penetapan APDB pemerintah desa juga mampu menerbitkan beberapa Perdes ( Peraturan desa ) yang memuat kebijakan pembangunan. Pada akhirnya agenda-agenda dan perencanaan desa dapat terukur yang didukung dengan kemampuan pelaku SDM.

D. Faktor-Faktor Pendukung Pembangunan Pedesaan

  1. Social Capital

Pertanyaan pertama pembangunan di pedesaan adalah, pembangunan itu untuk siapa? Apakah keberlangsungan pembangunan tersebut membawa implikasi terhadap kesejahteraan masyarakat desa ? Jika implikasi pembangunan tersebut tidak menga-akses secara horizontal ( masyarakat ) maka bisa dipastikan bahwa devisa-devisa yang diterima oleh negara tidak melalui peran partisipasi masyarakat secara signifikan. Industri usaha atau mesin penghasil devisa lebih mendominasi, dengan begitu  telah menggantikan peran partisipasi masyarakat.

Social capital adalah syarat mutlak dalam melakukan design-design pembangunan pedesaan. Beberapa pertimbangan tradisi yang mempengaruhi kultur pedesaan dalam merencanakan pembangunan pedesaan dapat dikompromikan ( fleksible ) sepanjang bahwa pembangunan tersebut di rancang untuk kesejahteraan masyarakat.

Produktivitas social capital dalam pembangunan pedesaan haruslah memiliki syarat-syarat sebagai berikut ;

1.1.        Lembaga pendidikan formal dan non formal sebagai penyedia sumber daya manusia yang kapabel.

1.2.        Attitude sebagai harmonisasi antara relasi sosial dan hubungan lembaga-lembaga usaha.

1.3.        Melakukan rekontruksi ulang terhadap tradisi-tradasi agama atau budaya yang dinilai kontra produktif atas keberlangsungan pembangunan.

1.4.        Memilki partisipasi dan ketersediaan saluran orientasi politik yang jelas.

2.Debirokratisasi capital

Debirokratisasi capital adalah upaya pemerintah untuk melakukan proses penyederhanaan terhadap pengaruh-pengaruh yang menimbulkan kapitalisasi di masyarakat.

Debirokratisasi capital sebagai berikut ;

2.1.        Percepatan seritifikasi atas kepemilikan tanah yang masih berstatus girik atau oper alih ( bukan milik negara ) yang ditimbulkan dari jual beli menjadi hak milik. Karena kepemilikan yang telah memiliki status hak milik memiliki nilai perolehan harta yang dapat di jadikan collateral.

2.2.        Pungutan yang diperuntukkan untuk Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) yang berdampak atas terjadinya high cost sehingga masyarakat yang terlibat dalam dunia usaha sulit bersaing dengan kompetitor harus di hapus / ditiadakan.

2.3.        Lembaga birokrasi yang berhubungan langsung dengan dunia usaha harus berperan sebai fasilitator yang memudahkan dan menyediakan akses terhadap kebutuhan pelaku dunia usaha ketimbang keberadaannya justru bersifat paradoksal.

3. Lembaga Keuangan

Eksistensi lembaga perbankan sesengguhnya merupakan pillar dalam menggerakkan roda per-ekonomian. Pembiayaan melalui perbankan dapat menggerakkan potensi-potensi pedesaan dengan tingkat suku bunga yang dikendalikan oleh otoritas moneter dapat dipastikan bahwa mesin penghasil devisa yang telah di design untuk masyarakat lebih mempercepat proses pembangunan berkesejahteraan.

Epilog

Orientasi birokrasi pemerintah desa harus memiliki kemampuan “ melayani “ untuk pemenuhan masyarakat desa ketimbang sebagai pelayanan yang bersifat administratif. Sehingga dalam merancang atau merencanakan pembangunan desa lebih mengedepankan partisipasi masyarakat desa ketimbang keinginan-keinginan pasar yang tidak pernah memiliki terhadap relasi-relasi sosial pedesaan.

Debirokratisasi capital harus dilakukan atas kesungguh-sungguhan pemerintah dalam menjalankan kepemerintahan yang berpihak pada ekonomi kerakyatan. Selanjutnya pembangunan di pedesaan tanpa dukungan lembaga perbankan adalah sebuah keniscayaan.





COMMUNITY BASED LEARNING, SEBUAH UPAYA MEMBANGUN MASYARAKAT PEDESAAN

31 03 2010

Menjadikan masyarakat yang maju dan peduli terhadap pembangunan desa adalah bukan suatu tugas yang mudah (easy duty). Akan tetapi seberat apapun hal itu jika kita dapat memberikan  inspirasi kepada masyarakat dan mereka mengejewantahkannya dalam kehidupan sehari-hari, itu adalah sebuah tugas mulia dan patut diacungkan jempol.

Memberikan contoh (exemplary attitude), membagi pengetahuan (sharing knowledge) dan mengajak untuk berbuat terbaik (doing the best) adalah beberapa rangkaian kegiatan yang menjadikan sebuah masyarakat terbangunkan dan menyadari bahwa dirinya mempunyai peran dan bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu menstimulasi berbagai fenomena di dalam masyarakat melalui proses pelibatan masyarakat dalam pembelajaran adalah sebuah karya nyata yang ditunggu-tunggu.

Community based learning (pembelajaran berbasis pada masyarakat),  adalah sebuah pendekatan yang dapat digunakan dalam rangka melibatkan seluruh komponen masyarakat desa mulai dari lapisan elite sampai pada grass root dalam mempelajari kebutuhan-kebutuhan lokal, sehingga dengan pendekatan ini masyarakat diajak ikut serta (take part) dalam memunculkan kepeduliannya terhadap pembangunan di wilayahnya sendiri.

Community based learning juga merupakan upaya mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam menerjemah serta mengurai berbagai  kondisi yang ada dalam lingkungannya. Dengan kata lain setelah mengalami pembelajaran masyarakat harus memiliki good will untuk menadirkan ketertinggalan menjadi sebuah kemajuan masyarakat di berbagai lini kehidupan.

Dapat kita lihat di masyarakat,  ada beberapa benefit yang dapat  diperoleh komuniti melalui pendekatan ini, di antaranya adalah (1) menimbulkan kepedulian terhadap perkembangan pembangunan wilayah, (2) memacu kompetisi yang sehat dan hasrat membangun di antara masyarakat sekitarnya, (3) menggali potensi keunggulan lokal yang selama ini kurang diperhatikan, (4) memberikan efek positif sampai pada tingkat grass root untuk dapat membantu mewujudkan masyarakat mandiri dan bangga terhadap kemajuan desanya.

Untuk merealisasikan hal tersebut di atas eksistensi sebuah institusi pendidikan masyarakat amatlah diperlukan. Menjadi jembatan (bridge) untuk menjadikan masyarakat yang peduli dengan pembangunan adalah sebuah peran yang sangat mulia dan tentunya menjadi suatu yang bernilai bagi masyarakat. Salah satu institusi pendidikan masyarakat yang berperan dalam membangun masyarakat pedesaan organisasi bercirikan civil social organization 

Civil Social Organization

CSO telah memposisikan dirinya sebagai sebuah lembaga yang konsern terhadap perkembangan pembangunan desa, terutama dalam mengupayakan peningkatan manajemen kinerja aparatur desa yang selama ini masih menunjukkan kualitas pelayanan yang rendah atau apa adanya (as is) terhadap masyarakat. Berbagi pengetahuan, memberikan contoh dan membantu penyelesaian terhadap beberapa masalah yang timbul dalam pelayanan public (public service) adalah beberapa aktifitas yang dilakukan organisasi CSO

Membangun desa. Dengan pendekatan di atas tidak menutup kemungkinan akan ada attitude turunan lainnya yang muncul di antaranya adalah kepedulian (care), bertanggung jawab (responsible),dan kebersamaan (togetherness). Dengan demikian dapat diharapkan pelibatan komunitas dalam pembelajaran akan memacu masyarakat untuk maju lebih cepat dan mengalami perubahan signifikan.

PROSES PEMBELAJARAN

Kaitan dengan pelibatan masyarakat dalam pembelajaran di atas, Hamzah Uno berpendapat pembelajaran adalah sebuah aktifitas belajar yang di dalamnya terjadi proses interaksi di antara peserta didik dan pengajar. Proses ini berlangsung selama proses belajar mengajar ini dilakukan. Artinya ada proses mengalami (learning experience) terhadap objek pengetahuan yang ditransfer dan diaktualisasi dalam kehidupan nyata.

Bloom menambahkan ada tiga hal yang akan muncul ketika seorang mengalami proses belajar, yakni (1) kognitif domain (product knowledge), berbagai wawasan dan pengetahuan  yang dimiliki setelah seeorang mengalami proses belajar, (2) Afektif domain( attitude), berbagai perilaku baik yang diharapkan menjadi ukuran keberhasilan pendidikan yang telah dilakukan, (3) Psikomotorik domain (life skill), berbagai ketrampilan yang akan diperoleh seseorang setelah mengikuti proses pembelajaran dan pelatihan.

Keberhasilan proses pembelajaran yang dieksekusi oleh seorang pengajar tentunya tidak terlepas dari keberhasilan memenej sebuah kelas (classroom management) yang aktif dan responsive. Artinya sebuah kelas yang efektif hendaknya dapat dijalankan dengan menggunakan berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas (classroom management). Pertama, behavior modification adalah sebuah pendekatan yang selalu diiringi dengan pembentukan perilaku peserta didik ke arah yang lebih positif dalam proses pembelajaran.

Peserta didik dapat mereduksi berbagai polah yang merugikan diri dan orang lain ke arah yang lebih baik, sehingga diharapkan perilaku yang muncul dapat menjadi contoh di lingkungannya.

Kedua, social emotional climate adalah sebuah suasana emosi yang diupayakan tercipta dalam membangun atmosper belajar yang kondusif. Artinya setiap pelaku SDM merasakan adanya kedekatan dan saling mengerti di dalam lingkungannya. Saling menghargai, membantu, meringankan, memperhatikan orang lain adalah deretan sikap yang akan muncul ketika pendekatan ini selalu dicoba untuk dikedepankan oleh pengajar di hadapan pelaku SDM. Dengan kata lain hampir dapat disimpulkan bahwa sulitlah kiranya menemui dampak negatif yang dapat dimunculkan dari upaya pendekatan social emotional climate ini.

Ketiga, Group Process adalah sebuah pendekatan yang mengandalkan kerjasama tim sebagai sebuah realisasi manusia makhluk sosial. Dalam proses pembelajaran pelaku SDM diajak untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran secara bersama-sama. Juga dibudayakan sikap cohesiveness (kelekatan/persatuan) kelompok dan bertanggung jawab secara bersama-sama dalam mengaktualisasikan pengalaman belajar di masyarakat.

SIMPULAN

Mewujudkan “Community Based Learning” sebagai sebuah pendekatan bagi organisasi yang bercirikan civil social organization  dalam membangun masyarakat pedesaan adalah sebuah keniscayaan. Dengan pendekatan ini dapat diharapkan munculnya reaksi positif masyarakat untuk peduli dan bertanggung jawab secara bersama-sama dalam mengaktualisasikan konstruk perencanaan pembangunan pedesaan.

Selain itu pendekatan ini akan lebih optimal bila dilaksanakan melalui proses pembelajaran yang mengaplikasikan prinsip-prinsip classroom management, yakni behavior modification, social emotional climate dan group process yang merupakan laskar-laskar penunjang keberhasilan pembelajaran masyarakat.

Dengan kata lain praktek pembelajaran masyarakat yang dilakukan dengan mengoptimalkan peran pelaku SDM, pada akhirnya akan dapat membantu menggali potensi pedesaan dalam meniadakan ketertinggalan dan mengaktualisasikan kemajuan masyarakat desa ke depan.





Di Balik Kebelet Nonton Sang Pemimpi

1 12 2009

Satu lagi Film karya Riri Riza “Sang Pemimpi” yang diangkat dari Novel Andrea Hirata bakal  diputar serentak di bioskop-bisokop tanggal 17 Desember 2009, Film yang pasti banyak mengisahkan perlawanan hidup dari ketidakmampuan yang mengisahkan rantai kemiskinan menjadi daya dorong untuk perubahan hidup yang lebih sejahtera. Dua tokoh Ical dan Arai pasti akan menyuguhkan sebuah pesan kepada kita (penonton) bahwa harapan dan keinginan bisa terwujud bukan dari faktor keberuntungan an sich tapi dari keyakinan, kebersamaan, semangat dan kerja keras.

Seperti film pendahulunya “ Laskar Pelangi “yang  kental dengan suasana melayu di Pulau Belitung, film Sang Pemimpi tidak jauh berbeda aroma kemelayuan apalagi lokasi syuting lebih banyak menyajikan potret kehidupan Kota Manggar. Mulai dari sekolah, bioskop sampai pelabuhan ikan yang berlimpah dengan tangkapan hasil laut untuk komoditas ekspor.  Nama kota Manggar inilah yang banyak mengingatkan saya akan pentingnya hidup berbagi, komitmen dan membangun harapan-harapan. Di kota Manggar ini pula,  empat belas  tahun yang lalu mengajarkan saya untuk pertama kalinya bersentuhan dengan comunity development, hipotesa langsung civil society, penelitian sosial, akrab dengan akar rumput, bergerak ke bawah tanpa istana, tanpa kursi dan tanpa sumpah jabatan. Dari tempat  inilah semua bermula, menikmati hidup tanpa embel-embel, berjalan dan bertingkah tanpa ada maunya. Yang pada akhirnya menetapkan keteguhan (konklusi ideologis) bahwa perubahan itu harus diawali   dan dimulai melalui gerakan kebudayaan, bukan perubahan-perubahan atas akibat dari  pengaruh struktural.

Lepas dari kerumunan Mas Bintang ( Sri Bintang Pamungkas ) seorang deklarator Forum Demokrasi Islam Indonesia yang lebih memilih gerakan politik untuk menguasai piramida yg paling kerucut agar kekuasaan dapat mudah di genggam dengan begitu rasionalisasi kaum miskin lebih mudah di genre kan menjadi kaum sejahtera lahir batin. Kebetulan saat itu saya menjabat sebagai sekretaris POKJA terkaget-kaget arah paradigma gerakan yang bermuara pada kekuasaan. Keyakinan dan keteguhan Mas Bintang dalam mengatasi carut marut bangsa ini adalah amal kebaikan dengan teori-teori politik kekuasaan yang diyakininya. Walau akhirnya saya berpisah dengan jalan yang membawa keyakinan masing-masing. Saya lebih memilih ke grass root sebagai ladang amal sholeh, Mas Bintang memilih jalur politik kekuasaan sebagai ijtihad yang diyakininya.

Keyakinan itu membawa saya untuk mengeksplorasi keingintahuan dunia akar rumput. Sekitar medio September 1995 dengan menaiki pesawat baling-baling Fokker 27 Flight No. MZ 104 ( saya ingat no flightnya karena satu-satunya yang berangkat pada pagi hari dari Soekarno-Hatta, dan MZ 104 telah jatuh yang menewaskan seluruh penumpang di kawasan hutan dekat bandara ) membawa saya ke bandara Buluh Tumbang Tanjung Pandan. Dari bandara menuju Manggar, sepanjang jalan  saya banyak menyaksikan sisa-sisa ekplorasi penambangan timah. Sumber kekayaan yang banyak dinikmati kaum pemilik modal ketimbang lebih banyak mengangkat harkat martabat penduduk belitung itu sendiri. Kini timah telah habis di hisap oleh komprador kapitalis. Yang masih nampak terlihat rerimbunan pepohonan hijau sesekali saya masih menyaksikan monyet melintas sambil bercanda ria seolah menikmati takdir yang Tuhan telah berikan.

Dengan jarak tempuh kurang lebih dua jam akhirnya saya tiba di Kota Manggar, satu-satunya penginapan sekaligus travel yang menjemput saya dibandara adalah hotel Nusa Indah. Setelah rehat di hotel kelas melati itu, saya mulai melangkah menemui akar rumput ditemani oleh sahabat baru saya yang bernama Yusril penduduk asli kota Manggar. Akar rumput yang menjadi objek kegelisahan saya adalah komunitas nelayan. Saya mengunjungi rumah-rumah nelayan yang berukuran 3 X 4 meter terbuat dari bilik bambu. Mendengar kisah keluh kesahnya, mendengar harapan-harapan hidupnya, menyaksikan semangat perlawanan ekonomi profan (duniawi) yang tidak berpihak kepadanya.

Malam harinya para nelayan Manggar berkumpul di rumah Yusril, saya memberikan pencerahan dan motivasi yang membangun harapan-harapan. Membangun kelompok nelayan yang berangkat dari gerakan penyadaran bahwa kesejahteraan itu bukan milik orang beruang saja. Malam itu, dengan pengetahuan yang baru seumur jagung, seolah-olah saya sudah seperti sinterklas saja.

Karena masih jamannya orde baru kegiatan pertemuan di rumah Yusril di endus oleh intelejen, seperti biasa berwatak refresif yang mengatasnamakan stabilitas keamanan. Berita pertemuan nelayan juga sampai ditelinga para pemilik modal. Mereka (pemilik modal) telah menjadikan nelayan sama halnya dengan alat-alat produksi tangkapan ikan seperti kapal dompeng, kail pancing, dan ransum. Nelayan diberikan kemudahan fasilitas peralatan tangkapan ikan di laut, namun hasil yang mereka tangkap harus diberikan (dijual) kepada para pemilik modal dengan harga yang tidak berdasarkan mekanisme pasar, harga berdasarkan kemauan pemilik modal. Saya menyaksikan perihnya pelelangan ikan yang tidak tercium bau amisnya ikan.

Di kota Manggar saya banyak merenung dan belajar. Memulai hidup dengan membumikan suara-suara kaum proletar. Walau pada akhirnya saya harus kalah untuk membobol kekuatan para pemilik modal yang memang sangat establish. Saya yang masih lemah, saya yang belum kuat, saya yang baru pertama kali menemui akar rumput akhirnya pulang dengan catatan-catatan panjang yang memuat pahit getir nelayan di Manggar Pulau Belitung. Saya tinggalkan Manggar dengan kekalahan secara profan, pernah suatu hari Yusril berujar “ jika telah meminum air di Manggar, kelak suatu hari akan berkunjung kembali ke Manggar”.

Empat belas tahun lamanya, saya rindu dengan nelayan Manggar. Kebiasaan pada malam hari minum kopi di kedai yang dipenuhi oleh penduduk Manggar dengan bersepeda yang jumlahnya mencapai ratusan. Kini Manggar hanyalah kenangan, Setidak-tidaknya film Sang Pemimpi sebagai jembatan silaturahmi ruhaniyah dengan Nelayan Manggar  dapat ber-resonansi dengan pertalian alam semesta.

17 Desember nanti berapa hari lagi ya ?








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.