Sertifikasi Guru Versi “Joshua”

26 10 2008

Indonesia sebagai negara berkembang (development country) sudah mulai melek akan penting dan besarnya kontribusi bidang pendidikan (education sector) di era globalisasi saat ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya  usaha Departemen Pendidikan Nasional dalam memenuhi standar-standar pendidikan yang mengacu pada perkembangan pendidikan internasional dewasa ini.

Salah satu program yang dicanangkan oleh pemerintah adalah sertifikasi guru (teacher certification). Sertifikasi guru mengacu pada empat kompetensi, yakni pertama kompetensi pedagogy (pedagogy competency) yang mewajibkan setiap guru untuk memiliki ketrampilam menggunakan berbagai metode dan model-model pembelajaran yanginovatif dan kreatif. Kedua kompetensi sosial ( social competency) yaitu kepasitas dalam berkomunikasi dan mensosialisasikan dirinya dalam lingkungan belajar dan lingkungannya. Ketiga kompetensi personaliti (personality competency) di mana setiap guru harus mampu menunjukkan kepribadian yang dapat ditiru (examplary attitude) oleh siswa dan rekan-rekan sejawatnya, sehingga dalam aktifitas mengajar dapat memberikan contoh prilaku yang baik (good behaviour) pada setiap pribadi yang ada di lingkungan sekolah. Yang terakhir, kompetensi akademik (academic competency) berisi kapasitas keilmuan pada setiap disiplin ilmu yang diampu selama proses pembelajaran berlangsung, dengan pengembangan wawasan (up to date knowledge).

Dari setiap kompetensi di atas diharapkan oleh pemerintah setiap guru harus memenuhinya (standardized requirement) agar dikatakan LULUS sertifikasi. Permasalahan yang muncul adalah sampai sekarang pemerintah belum bergegas untuk mengadakan tim penilai independen (independent assesor) yang dapat memberikan penilaian secara objective atas segala portofolio guru (teacher protfolio) yang ada. Malah yang terjadi sekarang tim assesor berasal dari institusi yang meluluskan para guru tersebut termasuk di dalamnya IKIP , IAIN (UIN). Ini berarti mereka yang meluluskan dan mereka pula yang menyertifikasi. Ini kan namanya “jeruk makan jeruk”.

Efek dari hal di atas adalah lemahnya akuntabilitas terhadap penilaian assesor yang berujung pada sulitnya pencapaian kualitas pendidikan yang diimpikan selama ini.  ( M. Hatta, koordinator Lembaga Pendidikan)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: