School Culture VS Percepatan Waktu Masuk Sekolah Jam 6.30

30 11 2008

berangkat-sekolah-part_2

 

Ada apa dengan kebijakan baru pemerintah yang dengan serta merta meninjau kembali waktu jam masuk sekolah yang selama ini pukul 07.00 menjadi 06.30. Adakah kaitannya antara peningkatan SDM dengan percepatan waktu masuk sekolah. Atau mungkin ada tujuan terselubung sesaat yang merupakan jalan pintas menyelesaikan masalah macet yang sering dialami masyarakat metropolis tanpa pertimbangan matang.

 

Merealisasikan program tersebut tampaknya pemerintah masih mempertimbangkan opini-opini yang muncul dari berbagai kalangan, baik pemerhati pendidikan, warga masyarakat, termasuk para peserta didik. Mungkin perlu dirinci alasan kebijakan tersebut agar mengenai sasaran dan logis dipandang oleh para stakeholder, di antaranya:

Pertama, melebihdisiplinkan para siswa dalam hal kehadiran, oleh karenanya penting untuk berangkat lebih awal.

Kedua, memperbanyak alokasi waktu keberadaan di sekolah, sehingga dapat mengakomodir berbagai aktifitas belajar di sekolah.

Ketiga, membantu pihak sekolah dalam kelonggaran mengatur jadual pembelajaran di sekolah

Keempat, membantu pemerintah dalam hal penegakkan disipilin nasional yang dimulai dari usia sekolah.

 

School Culture (kultur sekolah) yang akan sedang dibangun oleh pemerintah hendaknya dapat mencari alasan-alasan yang mencirikan keinginan domain membangun karakter ketimbang hanya alasan penyelesaian kemacetan semata. Macet tidak hanya tercipta secara sendirinya, hal itu terjadi karena beragam sikap prestige dari masyarakat yang berhasrat menunjukkan kekuasaan dan kelebihan yang dimilikinya dan masih banyak alasan lainnya. Mempromosikan kepentingan School culture akan menjadi logical reason bagi siapapun. Keterbukaan pemerintah sekaligus sebagai stakeholder amatlah penting, karena ini merupakan bagian penting dalam membangun  karakter masyarakat agar menjadi exemplary attitude bagi komuniti ke depannya.

Iklan




“LASKAR PELANGI” Dalam Sisi Gelap dan Terang Dunia Pendidikan

29 11 2008

gambar-laskar-pelangiAndrea Hirata seorang penulis muda yang buah karya tulisnya sangat mendapatkan apresiasi besar publik dan memberikan hiburan sekaligus pelajaran yang menarik bagi para pecinta dan penikmat tayangan film Laskar Pelangi tersebut, bahkan orang no 1 RI pun menggelar nonton bareng bersama para menteri . Betapa dahsyatnya pengaruh film Laskar Pelangi sehingga menyedot banyak perhatian khalayak.

Dalam film ini dihadirkan fenomena pendidikan yang berjalan apa adanya (as is). Andrea dan teman-temannya mengikuti proses pembelajaran (instructional process) secara alami sesuai dengan kemampuan masing-masing dan tidak terlalu banyak menuntut kelengkapan sumber daya kelas (class’ resources). Ibu guru Muslimah adalah tipikal guru heroik yang mau berjuang dan mempertahankan eksistensi sekolah di wilayah pedalaman Belitung tersebut. Beliau selalu memberikan nilai kepada para siswanya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Beliau juga telah menjalankan sistem inklusi dalam kelasnya, hal ini dapat dilihat dari kelas yang juga diikuti oleh seorang siswa yang terkebelakang (handicap student). Ibu Muslimah tetap memberi perhatian besar untuk seluruh siswanya tanpa pilih kasih dalam menebar kasih dan sayang kepada para siswanya. Penggalan cerita ini adalah sebuah sisi terang dalam dunia pendidikan, karena memberikan inspirasi bagi para guru saat ini untuk tetap menjaga spirit dalam mengajar dan menyayangi para siswanya sepenuh hati tanpa pilih kasih dan mau mengerti berbagai kesulitan yang siswa hadapi.

Kurang kooperatif dan komunikatif pihak Sekolah Muhamadiyah, di mana Andrea dan teman-temannya belajar adalah bagian dari sisi gelap dunia pendidikan. Hal ini dapat dilihat ketika ibu Muslimah selalu menarik diri bila bertemu dengan teman-teman sejawatnya yang berasal dari sekolah lain. Dampak dari perilaku ini menimbulkan adanya kesenjangan yang semakin jauh dan menyebabkan sulitnya percepatan kemajuan sebuah sekolah (outstanding acceleration). Selain itu keterbatasan buku sebagai sumber ilmu juga memungkinkan keterbatasan pengembangan ilmu bagi setiap siswa kelas tersebut. Dengan keterbatasan buku tersebut sangatlah sulit bagi mereka mendapatkan pengetahuan luas.Bagaimana para siswa bisa mendapatkan pengetahuan luas tanpa tersedia buku-buku sebagai sumber ilmu.

Namun dari kedua sisi tersebut, bagi kita yang terpenting adalah kita bisa mengambil hikmah dari hal tersebut dan memperbaiki dari sisi sisi yang kurang dalam dunia pendidikan, sehingga dari waktu ke waktu peningkatan mutu pendidikan dapat terealisasi di berbagai wilayah Indonesia. (M. Hatta, Lembaga Otonom Pendidikan , Drupadi Foundation)





Sekolah Alam Dalam Perspektif Toto Chan

14 11 2008

sekolah-alam1Sekolah Alam adalah sebuah bentuk sekolah alternatif yang menyuguhkan format pendidikan berkonsep alam bertujuan untuk menyentuh dan menggali potensi yang ada dalam setiap diri individu siswa dengan berbagai kapasitasnya (individual diffrences). Dengan demikian setiap peserta didik diharapkan dapat lebih ekspressif dalam menuangkan hasrat dan ide-idenya ketika berada dalam proses pembelajaran dan juga terbentuk sikap mandiri serta tangguh (survival child) dalam menghadapi segala tantangan ke depan.

Manfaat yang diperoleh dalam format sekolah alam diantaranya: pertama, memberikan keleluasaan bagi para guru untuk mengembangkan bentuk materi  dan strategi penyamapiannya dalam setiap kesempatan guna menghindari kebosanan (boredem) pada diri siswa. Kedua, memberikan nuansa alami sesuai dengan potensi siswa (student’s potential) untuk menemukan konsep-konsep yang akan mereka peroleh melalui proses pembelajaran.. Ketiga, memberikan kesempatan bagi para siswa untuk memupuk sikap saling menghargai dan memahami dalam merealisasikan akhlakul karimah serta bersosialisasi  terhadap sesama. Keempat, mewujudkan ketrampilan hidup (life skill) yang dialami dalam setiap proses pembelajaran, dengan memberikan kesempatan untuk melakukannya langsung seperti merawat tanaman (plan watering), memberi makan ikan (fish feeding), dan waktu bersama-sama memanen tanaman (harvest time).

60 tahun silam, Toto Chan adalah fenomena seorang siswa di Jepang yang menggambarkan bagaimana ia mengalami proses pendidikan yang pandai menghargai potensi setiap siswa dan selalu menggali kapasitas-kapasitas siswanya, walaupun ada di antara mereka yang mengalami cacat fisik dan tergolong lambat belajar (slow learner). Toto Chan melukiskan kebanggaan terhadap sekolah yang diikutinya selama ini. Ia mau mempertahankan eksistensi sekolahnya walaupun di mata sebagian siswa sekolah lainnya, sekolah Toto Chan termasuk sekolah apa adanya alias jelek  dipandang, dengan menggunakan gerbong kereta tua peninggalan zaman perang. Mengapa ia tetap mempertahankan opininya bahwa sekolahnya Tomoe namanya adalah sekolah hebat, karena kepala sekolah Tomoe selalu mau mengerti dan mau mendengar segala keluhan para siswanya. Selain itu, Kepala sekolah juga tidak pernah mau menyalahkan setiap prilaku siswanya, akan tetapi lebih mengarahkan ke arah prilaku yang lebih baik. Toto Chan sangat senang ketika bangku tempat duduknya bisa berubah-ubah dari hari ke hari, karena bagi Toto Chan dengan ini mempermudah berteman dan bersosialisasi dengan sesama. Yang lebih menarik, guru Toto Chan memberikan kesempatan pada siswa untuk memilih materi apa yang lebih dulu siswa pilih dan tidak dipaksakan untuk dikerjakan dan diselesaikan dalam waktu yang sama, dengan keterbatasan yang ada pada siswa.

Banyak hal yang bisa dipalajari dari Toto Chan dengan sekolahnya “Tomoe” di antaranya guru dan kepala sekolah hendaknya memiliki keinginan untuk menghargai dan mengerti terhadap segala perbedaan siswa, siswa lebih banyak diberi kesempatan untuk berekspresi dan memilih apa yang hendak diketahuinya hari itu. Siswa dibangun untuk peduli terhadap sesama dan perhatian pada kesulitan yang dihadapinya. Dan yang lebih penting bagaimana siswa lebih ditumbuhkan kecakapan hidup (life skill) dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat membangun kepercayaan diri dan jati diri mereka sebagai insan yang tangguh dan berakhlakul karimah.

(M. Hatta, Lembaga otonom Pendidikan Drupadi Foundation)





PLTU Muara Tawar

12 11 2008

Tanggapan Tertulis Pembahasan dokumen KA-ANDAL Pengembangan Pipa Gas Bawah Laut Bojonegoro – Muara Karang – Muara Tawar Oleh PT. Perusahaan Listrik Negara ( Persero )

Disampaikan oleh : Agustian *)


Pendahuluan

Dampak krisis BBM tentu membawa persoalan yang significant terhadap industri pembangkit listrik. Maka upaya pengganti energi alternatif tengah di upayakan oleh PT. Perusahaan Listrik Negara sehingga kebutuhan pasokan energi listrik dapat terpenuhi.

Hal itulah yang mendasari PT. Perusahaan Listrik Negara ( Persero ) merencanakan mengganti BBM dalam pengoperasian PLTU Muara Karang dan PLTU Muara Tawar dengan Bahan Bakar Gas ( BBG ) oleh karenanya pihak PT. PLN berencana membangun sistem transmisi di Bojonegara selanjutnya sistem transmisi pipa gas tersebut akan dibangun dibawah laut sepanjang + 125.44 km.

Pada kesempatan rapat komisi yang di adakan Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan selaku Komisi Penilai AMDAL Pusat tanggal 24 Juni 2008, perkenankalah kami Drupadi Foundation selaku Ornop lokal yang berdomisili di Tarumajaya memberikan pendapat, saran dan kritik agar rencana pembangunan pipa dasar laut membawa kemaslahatan dari kedua pihak ( PT. PLN dan Masyarakat sekitar PLTGU Muara Tawar ).

Semoga hal-hal yang kami sampaikan dapat dijadikan pula pertimbangan oleh Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan selaku Komisi Penilai AMDAL PUSAT dalam memberikan rekomendasi AMDAL agar masyarakat terkena dampak ikutan dari pembangunan pemasangan pipa gas dan eksistensi PLTGU Muara Tawar membawa dampak positif secara sosio-ekonomis.

*) Ketua Umum Drupadi Foundation

Sebagai bentuk peduli terhadap masyarakat di sekitar PLTGU Muara Tawar Drupadi Foundation memberikan 5 ( lima ) pandangan terhadap rencana pemasangan pipa gas bawah laut sebagai berikut :

1.      Sosialisasi yang membuahkan kesepahaman antara Nelayan dan PT. PLN

2.      Kompensasi ganti rugi secara adil.

3.      Rekruitmen Tenaga Kerja

4.      Simulasi Tanggap Bencana

5.      Sisi Lain ” PLTGU dan CSR “

Harapan kita  tentunya PT. PLN yang di amanahkan negara memberikan jaminan pasokan listrik kepada masyarakat dapat menjalankan amanah dengan baik begitu pula sebaliknya masyarakat yang terkena dampak dari industri listrik membawa kemaslahatan bukan kesengsaraan dan keterpurukan.

Semoga !

1. Sosialisasi yang membuahkan kesepahaman antara Nelayan dan PT. PLN

Dari uraian KA-ANDAL pembangunan pipa gas bawah laut bahwa pemasangan lepas pantai ( offshore ) membawa keterkejutan inter group feeling terhadap masyarakat nelayan yang aktifitas kesehari-hariannya menggantungkan hidupnya di Laut.

Pembangunan tersebut tentu memobilisasi logistik dan alat-alat pendukung pemasangan pipa seperti ; kapal apung, kapal bengkel las ( barge ), kapal tongkang, motor boat, kapal supplay maupun alat-alat berat seperti eksavator dan mesin bor.

Agar tidak terjadi singgungan antara nelayan dan pelaksana ( kontraktor ) perlu sosialisasi kesepahaman agar kegiatan nelayan tidak terganggu yang membawa dampak berkurangnya pendapatan. Karena alat-alat produksi nelayan seperti jaring dan  bagang letaknya sangat berdekatan dengan PLTGU Muara Tawar.

011021Foto Bagang di sekitar laut PLTGU Muara Tawar

2. Kompensasi Ganti Rugi Secara Adil

Pada pemasangan pipa darat ( on shore ) di PLTU Muara Tawar + 1,200 meter dengan kedalaman 2,4 – 2,5 meter dari dasar galian sampai permukaan tanah sedangkan lebar lubang parit adalah 150 cm.

Pemasangan pipa darat direncanakan akan melalui tambak di sekitar PLTGU Muara Tawar maka perlu pertimbangan kompensasi ganti rugi terhadap pemilik lahan secara adil dengan pertimbangan sebagai berikut :

a.      Bahwa tambak adalah sumber mata pencaharian

b.      Bahwa tambak adalah kepemilikan yang dijadikan asset oleh pemiliknya

Dari pertimbangan tersebut dijadikan azas musyawarah untuk ditentukan nilai harga kompensasi. Agar terhindar dari calo maka penilaian harga harus transparan dan melibatkan unsur-unsur pemerintah setempat.

031

Foto Tambak dan rencana On Shore

3. Rekruitmen Tenaga Kerja

Dalam Pekerjaan pemasangan pipa kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan di barge adalah 140 orang, terdiri dari lulusan universitas 11 orang, D3 11 orang, SLTA 98 orang dan SLTP 20 orang. Dari kebutuhan tenaga kerja hampir dipastikan yaitu tenaga kerja yang berpengalaman dalam hal pekerjaan pe-mipaan ( migas ) sedangkan prototipe masyarakat Muara Tawar sebagian besar nelayan dan petani.

Namun demikian PT. PLN ( melalui kontraktor ) tetap memberitahukan peluang pekerjaan secara terbuka kepada masyarakat sekitar PLTGU Muara Tawar dan masyarakat Tarumajaya.

4. Simulasi Tanggap Darurat Bencana

Dari paparan tanggap bencana yang di paparkan dalam KA-ANDAL tidak diketemukan  simulasi yang melibatkan masyarakat. Prosedural yang diterapkan hanya dimengerti oleh pihak PT. PLN

Oleh sebab itu perlu simulasi tanggap darurat bencana yang melibatkan unsur masyarakat agar masyarakat dapat paham :

a.      Bahaya jika terjadi kebocoran gas

b.      Dapat mengenal tingkat resiko atas pemasangan pipa gas

c.       Dapat menyelamatkan diri jika terjadi kebocoran gas yang mengancam keselamatan jiwa

d.      Dapat mensinkronkan dengan prosedur penyelamatan yang dilakukan oleh PT. PLN

5. Sisi Lain ” PLTGU Muara Tawar dan CSR “

PLTGU Muara Tawar yang dibangun tahun 1994 berlokasi di Muara Tawar, Desa Segara Jaya Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi. PLTGU Muara Tawar berada pada jarak + 30 Km dari pusat kota jakarta ke arah timur laut, atau sekitar 12 km dari pelabuhan Tanjung Priok ke arah timur. Dengan kapasitas total existing 2.710 MW.

Sebelum adanya PLTGU Muara Tawar masyarakat masih mendengar kicau burung namun saat ini bukanlah kicau burung yang terdengar tetapi kebisingan yang kini akrab dengan masyarakat.

Sisi negatif keberadaan PLTGU Muara Tawar lebih mengemuka ketimbang sisi positifnya. Apalagi berkurangnya hasil tangkapan ikan oleh nelayan yang diakibatkan pembuangan limbah air panas.

” CSR Bagaimana …? “

Corporate Social Responbility ( CSR ) adalah jembatan yang mempertemukan antara perusahaan dan stakeholdernya dengan masyarakat disekitar dengan mengedepankan moral etis dan etika.

Menjawab sisi negatif masyarakat terhadap PLTGU Muara Tawar maka perlu di ” berdayakan ” CSR secara maksimal agar bantuan bukan hanya  ( saat ini berbentuk infra struktur ) lebih terasa dan membawa perubahan pada tingkat kesejahteraan.

Program charity perlu ditinjau ulang, walau populer efek kontinuitas ke arah perubahan tidak memiliki dampak. Sedangkan CSR yang telah di amanatkan melalui UU Nomor 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas, pemerintah memasukkan pengaturan tanggung jawab sosial dan lingkungan kedalam undang-undang perseroan.

Dengan begitu perusahaan memiliki peran dalam melakukan social engineering melalui community development yang dirancang sesuai kompetensi masyarakat yang dijadikan objek garapan.

Sampai saat ini PLTGU Muara Tawar belum memberikan perubahan yang mendasar, kehadirannya hanya memberikan kesan mewah dalam ranah industri listrik di Indonesia dan Muara Tawar tercatat pada peta sejarah listrik saja. Namun potret ketertinggalan dan keterpurukan masyarakat tenggelam dalam bingkai birokrasi dan industri.

041

Epilog

Demikian tanggapan tertulis kami sampaikan atas rencana Pembangunan Pipa Gas Bawah Laut Bojonegara – Muara Karang – Muara Tawar. Harapan kami tentunya kepada penilai AMDAL Pusat agar yang kami sampaikan dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum mengeluarkan rekomendasi AMDAL.