Sekolah Alam Dalam Perspektif Toto Chan

14 11 2008

sekolah-alam1Sekolah Alam adalah sebuah bentuk sekolah alternatif yang menyuguhkan format pendidikan berkonsep alam bertujuan untuk menyentuh dan menggali potensi yang ada dalam setiap diri individu siswa dengan berbagai kapasitasnya (individual diffrences). Dengan demikian setiap peserta didik diharapkan dapat lebih ekspressif dalam menuangkan hasrat dan ide-idenya ketika berada dalam proses pembelajaran dan juga terbentuk sikap mandiri serta tangguh (survival child) dalam menghadapi segala tantangan ke depan.

Manfaat yang diperoleh dalam format sekolah alam diantaranya: pertama, memberikan keleluasaan bagi para guru untuk mengembangkan bentuk materi  dan strategi penyamapiannya dalam setiap kesempatan guna menghindari kebosanan (boredem) pada diri siswa. Kedua, memberikan nuansa alami sesuai dengan potensi siswa (student’s potential) untuk menemukan konsep-konsep yang akan mereka peroleh melalui proses pembelajaran.. Ketiga, memberikan kesempatan bagi para siswa untuk memupuk sikap saling menghargai dan memahami dalam merealisasikan akhlakul karimah serta bersosialisasi  terhadap sesama. Keempat, mewujudkan ketrampilan hidup (life skill) yang dialami dalam setiap proses pembelajaran, dengan memberikan kesempatan untuk melakukannya langsung seperti merawat tanaman (plan watering), memberi makan ikan (fish feeding), dan waktu bersama-sama memanen tanaman (harvest time).

60 tahun silam, Toto Chan adalah fenomena seorang siswa di Jepang yang menggambarkan bagaimana ia mengalami proses pendidikan yang pandai menghargai potensi setiap siswa dan selalu menggali kapasitas-kapasitas siswanya, walaupun ada di antara mereka yang mengalami cacat fisik dan tergolong lambat belajar (slow learner). Toto Chan melukiskan kebanggaan terhadap sekolah yang diikutinya selama ini. Ia mau mempertahankan eksistensi sekolahnya walaupun di mata sebagian siswa sekolah lainnya, sekolah Toto Chan termasuk sekolah apa adanya alias jelek  dipandang, dengan menggunakan gerbong kereta tua peninggalan zaman perang. Mengapa ia tetap mempertahankan opininya bahwa sekolahnya Tomoe namanya adalah sekolah hebat, karena kepala sekolah Tomoe selalu mau mengerti dan mau mendengar segala keluhan para siswanya. Selain itu, Kepala sekolah juga tidak pernah mau menyalahkan setiap prilaku siswanya, akan tetapi lebih mengarahkan ke arah prilaku yang lebih baik. Toto Chan sangat senang ketika bangku tempat duduknya bisa berubah-ubah dari hari ke hari, karena bagi Toto Chan dengan ini mempermudah berteman dan bersosialisasi dengan sesama. Yang lebih menarik, guru Toto Chan memberikan kesempatan pada siswa untuk memilih materi apa yang lebih dulu siswa pilih dan tidak dipaksakan untuk dikerjakan dan diselesaikan dalam waktu yang sama, dengan keterbatasan yang ada pada siswa.

Banyak hal yang bisa dipalajari dari Toto Chan dengan sekolahnya “Tomoe” di antaranya guru dan kepala sekolah hendaknya memiliki keinginan untuk menghargai dan mengerti terhadap segala perbedaan siswa, siswa lebih banyak diberi kesempatan untuk berekspresi dan memilih apa yang hendak diketahuinya hari itu. Siswa dibangun untuk peduli terhadap sesama dan perhatian pada kesulitan yang dihadapinya. Dan yang lebih penting bagaimana siswa lebih ditumbuhkan kecakapan hidup (life skill) dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat membangun kepercayaan diri dan jati diri mereka sebagai insan yang tangguh dan berakhlakul karimah.

(M. Hatta, Lembaga otonom Pendidikan Drupadi Foundation)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: