“LASKAR PELANGI” Dalam Sisi Gelap dan Terang Dunia Pendidikan

29 11 2008

gambar-laskar-pelangiAndrea Hirata seorang penulis muda yang buah karya tulisnya sangat mendapatkan apresiasi besar publik dan memberikan hiburan sekaligus pelajaran yang menarik bagi para pecinta dan penikmat tayangan film Laskar Pelangi tersebut, bahkan orang no 1 RI pun menggelar nonton bareng bersama para menteri . Betapa dahsyatnya pengaruh film Laskar Pelangi sehingga menyedot banyak perhatian khalayak.

Dalam film ini dihadirkan fenomena pendidikan yang berjalan apa adanya (as is). Andrea dan teman-temannya mengikuti proses pembelajaran (instructional process) secara alami sesuai dengan kemampuan masing-masing dan tidak terlalu banyak menuntut kelengkapan sumber daya kelas (class’ resources). Ibu guru Muslimah adalah tipikal guru heroik yang mau berjuang dan mempertahankan eksistensi sekolah di wilayah pedalaman Belitung tersebut. Beliau selalu memberikan nilai kepada para siswanya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Beliau juga telah menjalankan sistem inklusi dalam kelasnya, hal ini dapat dilihat dari kelas yang juga diikuti oleh seorang siswa yang terkebelakang (handicap student). Ibu Muslimah tetap memberi perhatian besar untuk seluruh siswanya tanpa pilih kasih dalam menebar kasih dan sayang kepada para siswanya. Penggalan cerita ini adalah sebuah sisi terang dalam dunia pendidikan, karena memberikan inspirasi bagi para guru saat ini untuk tetap menjaga spirit dalam mengajar dan menyayangi para siswanya sepenuh hati tanpa pilih kasih dan mau mengerti berbagai kesulitan yang siswa hadapi.

Kurang kooperatif dan komunikatif pihak Sekolah Muhamadiyah, di mana Andrea dan teman-temannya belajar adalah bagian dari sisi gelap dunia pendidikan. Hal ini dapat dilihat ketika ibu Muslimah selalu menarik diri bila bertemu dengan teman-teman sejawatnya yang berasal dari sekolah lain. Dampak dari perilaku ini menimbulkan adanya kesenjangan yang semakin jauh dan menyebabkan sulitnya percepatan kemajuan sebuah sekolah (outstanding acceleration). Selain itu keterbatasan buku sebagai sumber ilmu juga memungkinkan keterbatasan pengembangan ilmu bagi setiap siswa kelas tersebut. Dengan keterbatasan buku tersebut sangatlah sulit bagi mereka mendapatkan pengetahuan luas.Bagaimana para siswa bisa mendapatkan pengetahuan luas tanpa tersedia buku-buku sebagai sumber ilmu.

Namun dari kedua sisi tersebut, bagi kita yang terpenting adalah kita bisa mengambil hikmah dari hal tersebut dan memperbaiki dari sisi sisi yang kurang dalam dunia pendidikan, sehingga dari waktu ke waktu peningkatan mutu pendidikan dapat terealisasi di berbagai wilayah Indonesia. (M. Hatta, Lembaga Otonom Pendidikan , Drupadi Foundation)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: