Memaknai Ruang Spiritualitas Ibadah Haji

4 12 2008

perempuanSeperti biasa menjelang Hari Raya Iedul Adha atau biasa disebut juga Hari Raya Qurban. Mbok Minah melalui pengeras suara selalu mengumandangkan Labbaika Allahumma Labbaika Labbaika Laa Syarika laka labbaik dengan notasi dilagukan yang lazim oleh ibu-ibu majelis taklim sebelum acara inti pengajian di mulai. Maklum saja mbok Minah adalah penggerak majelis taklim kaum ibu dilingkungan dimana mbok Minah tinggal.

Mbok Minah wanita yang sudah berusia senja sehari-hari adalah seorang penjual sayuran di pasar tradisional. Sayurannya pun hanya dua jenis yaitu sayur kangkung dan bayam itupun didapat dari hasil yang dia tanam sendiri pada lahan tidur dekat dengan rumahnya. Penghasilan dari penjualannya hanya cukup membantu menghidupi dua anak serta empat cucunya. Karena Mbok Minah bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarganya sejak dia ditinggalkan oleh suami karena takdir ajal yang tidak biasa dihindarkan. Anak-anak Mbok Minah hanya mengenyam pendidikan sampai sekolah dasar. Karena alasan ekonomi cukuplah anaknya hanya pandai membaca dan menulis. Kedua anaknya tumbuh dan berkembang dengan tempaan kemiskinan sehingga anaknya pun harus menerima warisan kemiskinan sebagai rantai garis nasib yang harus diterima dan tak terelakkan.

wukuf-okeSeorang Mbok Minah memang mustahil dapat menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Karena syarat-syarat kemampuan ekonomi Mbok Minah tidak miliki. Mbok Minah hanya merasakan dari cerita-cerita orang yang sudah berhaji. Katanya ketika pertama kali melihat kabah pasti air mata kita jatuh bercucuran sambil menatap kabah dan  menengadahkan tangan tinggi-tinggi berdoa seolah-olah jarak dengan Tuhan sangat dekat, apalagi saat kedua tangan merentangkan memeluk kabah di hijir Ismail seolah ruh melesat dan bersatu dengan Tuhan. Penggalan cerita eksotis spiritual tidak sampai di situ, keharuan saat wukuf di arafah dengan lautan manusia berbalut ihram,  belum lagi cerita ke-khusyuan shalat di Masjidil Haram dengan keutamaan lebih baik seribu kali shalat di tempat lain. Sampai tempat-tempat berdoa yang makbul mulai dari safa sampai marwah, maqam Ibrahim, mencium hajar aswad walau harus beradu sikut, dari raudhoh sampai ziarah ke makam Rasulullah dan cerita  tempat-tempat ziarah lainnya. Seolah cap kemabrur-an dan gelar haji telah sempurna dengan ganjaran mendapatkan tempat di surga. Begitulah cerita yang sering kita dengar dari seseorang yang telah selesai menunaikan ibadah haji. Dan seperti biasa Mbok Minah mendapat hadiah berupa tasbih, sajadah dan tak ketinggalan air zamzam.

Dari musim haji ke musim haji, Mbok Minah dan cap kemisikinannya tidak pernah berubah. Dan perilaku orang yang telah berhaji  terhadap Mbok Minah juga tidak berubah yaitu pandangan terhadap kemiskinan Mbok Minah adalah ladang menaburkan rizki (charity) sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rizki yang Tuhan telah berikan. Upaya merubah status sosial Mbok Minah atau setidak-tidaknya memutus mata rantai kemiskinan bukan urusan dan tanggung jawab sosialnya. Itu urusan Mbok Minah, menurutnya charity yang telah diberikan kepada Mbok Minah sudah melepas rasa tanggung jawab sosial baik menurut perintah Tuhan maupun logika rasional materialisme. Padahal tidaklah demikian orang yang telah berhaji dengan pengharapan mabrur harus menjadi duta Tuhan menyebarkan rasa ar-rahman dan ar-rahiem yang dimenifestasikan dengan sesuatu yang konkrit yaitu mencari akar masalah yang menyebabkan kemiskinan Mbok Minah. Perilaku inilah pernah dikritisi oleh Muhamad Yunus pendiri Grameen Bank ( Bank untuk kaum miskin ).

Siapa yang tidak kenal Mbok Minah ? hampir seluruh orang sekampung mengenalnya. Mbok Minah mensyukuri atas kemiskinan yang menderanya  tapi perilaku (human behaviore) memiliki kekayaan yang amat sangat luar biasa. Rumah Mbok Minah adalah tempat langganan persinggahan  bagi pengendara sepeda motor saat hujan turun. Dengan keterbatasan Mbok Minah sangat memuliakan tamu yang singgah ke rumahnya yang secara kebetulan memang rumah Mbok Minah berada di pinggir jalan raya. Belum lagi ia rela dibangunkan bila tetangganya membutuhkan pertolongan persalinan karena Mbok Minah memiliki keahlian persalinan secara konservatif. Belum lagi cara mendapatkan rizki untuk menghidupi keluarganya Mbok Minah menjaga betul etika dan moralitas dalam menjajakan sayuran di pasar. Bagi Mbok Minah dalam mencapai kemuliaan pencitraan diri harus menghindari sikap menyakiti orang lain, berlaku tidak adil dan memperkaya diri dengan menyusahkan orang lain (korupsi)

Mbok Minah tidak menyandang predikat “hajjah” di musim haji ia hanya merasakan cerita dan melantunkan talbiah di Mushallanya. Tetapi attitude Mbok Minah adalah ruang spiritual ibadah haji. Karena Mbok Minah tidak memiliki ruang ganda antara spiritualitas dan realitas tanpa spiritualitas. Mbok Minah adalah cerminan dan pembelajaran untuk memahami sebuah subtansi agama dan membumikan perintah Tuhan. Dengan begitu perjalanan spiritual ibadah haji harus membawa dampak terhadap perilaku dan kebermanfaatan kepada orang lain.

avatarAgustian

(Ketua Drupadi Foundation )


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: