“SAVE OUR PLANET”

26 12 2008

GLOBAL WARMING : dari “EARLY WARNING” menuju “AZAB”

earth1

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan ( khalifah ) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan nenyucikan Engkau?’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'(Surat Al-Baqarah ayat 30)

PENDAHULUAN

Climate is an ill-tempered beast, and we are poking it with sticks.”
(Professor Wally Broecker, Columbia University)

Global warming atau pemanasan global adalah gejala alam yang sangat mengkhawatirkan dan membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi tercinta ini. Global warming atau pemanasan global itu adalah akibat dari menipis bahkan berlubangnya lapisan ozon pada atmosfer. Banyak sekali fungsi ozon bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi, diantaranya adalah sebagai pelindung muka bumi dari radiasi matahari yang sangat membahayakan kehidupan makhluk hidup di bumi kita tercinta ini

Global warming menunjukkan peningkatan suhu rata-rata udara permukaan bumi dan lautan pada dekade terakhir dan peningkatan suhu ini masih akan terus berlangsung. Suhu udara rata-rata permukaan bumi meningkat 0.74 + 0.18 C dalam 100 tahun terakhir. Prediksi bahwa suhu global cenderung meningkat sebesar 1.1 sampai 6.4 C antara tahun 1990 dan 2100.

PENYEBAB

Peningkatan suhu bumi sebenarnya dapat terjadi secara alami, namun penyebab utama global warming ini adalah tingginya level greenhouse gases, terutama CO2 dan metan dalam skala masif di atmosfer akibat aktifitas manusia, seperti tingginya laju pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam dan perubahan fungsi lahan terutama deforestasi. sebagai resiko dari aktivitas industri, transportasi, dan rumah tangga. Aktivitas tersebut meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan keinginan masyarakat modern yang semakin beragam.

Bumi, merupakan kesetimbangan antara energi (panas) yang dipancarkan matahari dan energi yang dilepaskan kembali ke luar angkasa. Secara alamiah, sekitar sepertiga energi dilepaskan kembali, sementara sisanya diserap atmosfir, daratan, dan lautan. Inilah yang membuat bumi menjadi hangat. Tapi, ketika komposisi atmosfer berubah sebagai akibat penambahan karbon dioksida, maka temperatur bumi pun ikut berubah.

Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pasti mempengaruhi lingkungan. Semakin banyak jumlah manusia maka kecenderungan kerusakan lingkungan semakin besar. Semakin banyak kebutuhan manusia, semakin cepat terdegradasi lingkungan di sekitarnya.

Beberapa ilmuwan menyatakan pemanasan global terjadi karena faktor alam. Namun sebagian besar lagi menyatakan hal itu terjadi karena ulah manusia. Alquran menjawab perdebatan faktor penyebab pemanasan global melalui Surat Asy-Syura ayat 27. Di situ disebutkan bahwa penyebab kerusakan bumi itu adalah ulah manusia itu sendiri yang melampaui batas (berlebih-lebihan).

Kebutuhan manusia dapat diperhitungkan dan dipenuhi oleh sumber alam yang ada di muka bumi, namun keinginan manusia sangatlah banyak. Memenuhi semua keinginan manusia hanya akan memperburuk keadaan. Perbandingan pola produksi dan konsumsi di antara negara berkembang dan negara maju membuktikan hal tersebut.

Industrialisasi yang dilakukan negara-negara maju, terutama Amerika Utara dan Eropa. Mereka menyumbang sekitar 22 milyar ton karbon per tahun–terutama dari konsumsi BBM, industri, dan penebangan hutan. Di antara negara maju, penyumbang emisi terbesar adalah Amerika (36,1%) disusul Rusia (17,4%), Jepang, dan negara Eropa lainnya dalam persentase kurang dari 10%. Bandingkan dengan negara-negara berkembang seperti Asia, Amerika Selatan, dan Afrika yang “cuma” menyumbang sekitar 4 milyar karbon per tahun–itu pun bukan dari industri, melainkan perubahan penggunaan lahan.

Negara-negara berkembang punya hak dan keinginan untuk meningkatkan standar hidup mereka. Mau tak mau mereka akan mengkonversi hutan, menggalakkan industrialisasi, yang pada akhirnya akan menyumbang emisi lebih banyak ke atmosfir bumi.yang akan menimbulkan masalah-masxalah ekonomidan politik.

DAMPAK

Banyak literatur yang menyebutkan bahwa global warming turut bertanggungjawab terhadap terjadinya becana-bencana alam di belahan bumi ini, seperti gelombang panas, badai-badai tropis, banjir besar, ataupun kekeringan berkepanjangan yang melanda beberapa negara beberapa tahun terakhir ini. Selain menelan korban jiwa, bencana-bencana tersebut telah menimbulkan kerugian ekologi, ekonomi, dan sosial yang sangat besar. Meningginya level permukaan laut akibat global warming juga telah menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat penghuni pulau-pulau kecil di beberapa negara akan keberadaan tempat tinggalnya pada beberapa tahun yang akan datang.Permukaan air laut meningkat tujuh -23 inci di akhir abad yang lalu dan mengancam kawasan pantai dan menimbulkan badai dan angin topan. Asia adalah kawasan paling berbahaya. Lima negara yang terancam adalah Cina, India, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia.Akibatnya, temperatur global naik 0,6ºC dan permukaan air laut naik 20 cm. Kalau dibiarkan saja, tahun 2100 nanti temperatur global naik antara 1,4ºC hingga 5,8ºC dan permukaan laut bisa bertambah sampai 80 cm.

Pada tahun 1958 dilakukan pengujian kadar CO2 di pegunungan Manua Loa, Hawaii. Hasilnya kandungan CO2 di atmosfir meningkat jadi 316 ppmv–dibandingkan 200 ppmv di jaman es dan 280 ppmv di jaman sebelum industrialisasi modern. Belakangan, kadar CO2 sudah meningkat jadi 370 ppmv dan diperkirakan ada penambahan sekitar 160 milyar ton CO2 di atmosfir dalam 100 tahun terakhir.

Jakarta adalah satu dari 180 kota di dunia yang 70 persen wilayahnya berada di kawasan pantai berelevasi rendah yang terancam oleh naiknya permukaan laut akibat pemanasan global itu. Kota lainnya antara lain Tokyo, New York, Mumbai di India, Shanghai, dan Dhaka.

Kawasan pantai akan terkena dampak paling buruk dari pemanasan global. pada 2080 lebih dari 100 juta manusia akan terkena bencana banjir tiaptahun.
Bahkan pada 2090 mereka meramalkan terjadinya air bah raksasa di Amerika Utara. Berulang tiga sampai empat tahun sekali.

Selama 100 tahun terakhir, rata-rata suhu bumi telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celcius, dan diperkirakan akan meningkat sebesar 1,4 sampai 5,8 derajat Celcius pada 2050. Kenaikan suhu ini, akan mengakibatkan mencairnya es di kutub, menaikkan suhu lautan hingga volume dan permukaan air laut meningkat

Bahkan kalau sampai lapisan ozon di atmosfer bumi semakin lama semakin menipis dan akhirnya berlubang akan mencairkan es di kutub dan air dari pencairan es tersebut dapat membanjiri daratan-daratan di muka bumi. Walhasil kalau semua itu terjadi maka bumi kita ini hanya akan menjadi kenangan saja. Semua itu kemungkinan besar dapat terjadi dalam waktu yang relatif dekat. Itu didasarkan pada beberapa penemuan para ahli yang menemukan bahwa lubang ozon di kutub selatan sudah mencapai dua kali luas benus Eropa.

Akibat langsung dari adanya pemanasan global itu, seperti, perubahan cuaca dan iklim global, sistem pertanian dan persediaan bahan makanan, migrasi hewan dan penurunan jumlah spesies hewan dan tumbuhan. Selanjutnya, krisis sumber daya air yang mempunyai potensi untuk terjadinya konflik antar sektor dan antar pengguna.

Dampak lainnya terhadap kesehatan manusia dengan munculnya berbagai penyakit hewan, , manusia dan penyakit Zoonossis.

Global warming juga diyakini sebagai penyebab munculnya wabah penyakit-penyakit yang disebarkan oleh vektor. Dimana, perubahan iklim dapat merubah pola distribusi dari vektor-vektor tersebut dan juga mempengaruhi laju reproduksi dan maturasi dari agen infektif yang ada di dalam tubuh vektor. Kondisi inilah yang diyakini menjadi salah satu penyebab tingginya kejadian Malaria dan Dengue pada beberapa negara, termasuk Indonesia.

“As a result of globalization and climate change we are currently facing an unprecedented worldwide impact of emerging and re-emerging animal diseases and zoonoses – animal diseases transmissible to humans.
Improving the governance of animal health systems in both the public and private sector is the most effective response to this alarming situation”(Dr. Bernard Vallat ,OIE Director General)

Lalu apa dampak global warming terhadap kesejahteraan dan kesehatan hewan? Ilmuwan telah meyakini bahwa suhu bumi yang semakin tinggi akan mempercepat hilangnya spesies-spesies hewan dari muka bumi. Global warming pada skala global dan regional diprediksi akan merubah distribusi spesies, sejarah hidup spesies, komposisi komunitas, dan juga fungsi ekosistem. Selain itu, merebaknya penyakit infeksius pada beberapa hewan domestik maupun hewan liar yang disebabkan oleh global warming telah menjadi ancaman terhadap kesehatan hewan benar-benar sudah ada di depan mata.

Penyakit Bluetongue yang meluas di dataran Eropa antara tahun 1998-2005. Penyakit ini telah membunuh lebih dari 1.5 juta ekor domba dan menyebabkan periode ini sebagai periode wabah bluetongue terlama dan terbesar dalam sejarah Eropa. Lima serotipe virus bluetongue diketahui telah menginvasi Eropa pada periode ini. Kasus wabah bluetongue ini terjadi di beberapa negara atau wilayah yang sebelumnya dilaporkan sama sekali tidak pernah terdapat kasus Culicoides-borne arboviral disease, seperti Turki, dataran Yunani, Bulgaria, beberapa negara Balkan, dataran Italia, Sicily dan Sardinia, Corsica, kepulauan Balearic, dan Tunisia. Kejadian ini sekarang dihubungkan dengan kejadian pemanasan global di wilayah Eropa. Dari hasil penelitian yang dilakukan, terindikasi bahwa penyebaran dramatis dari vektor Culicoides imicola ke wilayah yang tidak pernah mengalami infeksi bluetongue sebelumnya atau transimisi virus bluetongue oleh vektor baru, C. obsoletus dan C. pulicaris, hanya terjadi di area-area yang secara nyata mengalami pemanasan suhu. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan langsung antara kemunculan bluetongue di Eropa dengan global warming.

Punahnya 67% dari sekitar 110 spesies katak Atelopus sp. dari pegunungan Costa Rica akibat infeksi fungi patogen Batrachochytrium dendrobatidis sekitar 20 tahun lalu. Atelopus sp merupakan spesies katak endemis di wilayah tropis benua Amerika. Analisa hubungan periode kepunahan terhadap perubahan level permukaan laut dan suhu udara menunjukkan bahwa pemanasan global telah menyebabkan suhu lingkungan pada sebagian besar pegunungan-pegunungan di wilayah Amerika Selatan dan Tengah bergerak mendekati suhu optimum pertumbuhan fungi pathogen B. dendrobatidis sehingga menyebabkan wabah dan mengakibatkan punahnya sebagian spesies Atelopus sp.

Kejadian di atas telah memperlihatkan bahwa dampak negatif global warming terhadap kejadian penyakit pada hewan adalah nyata. Tidak hanya itu, peristiwa El Nino-Southern Oscillation, salah satu fenomena alam yang juga dipengaruhi oleh global warming, diketahui juga berpengaruh pada patogen yang hidup di laut yang menyebabkan penyakit pada oyster dan coral.

Kita harus tetap waspada terhadap kemunculan-kemunculan wabah penyakit lainnya jika tidak ada usaha-usaha untuk memperlambat laju global warming. Banyak penyakit penting hewan domestik yang baik kemunculannya atau pun siklus hidup agen penyebabnya secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh faktor-faktor cuaca, seperti suhu dan kelembaban udara,misalnya : Anthrax, Pasteurellosis dan Haemonchosis.

Penyakit-penyakit pada hewan domestik dan hewan liar yang kemunculannya atau pun siklus hidup vektor dan agen penyebabnya dipengaruhi oleh faktor suhu dan kelembaban lingkungan. Sehingga, perubahan cuaca akibat global warming dapat mempengaruhi waktu kemunculan wabah ataupun intensitas wabah dari penyakit-penyakit tersebut.

PENGENDALIAN

186 negara sudah sepakat untuk meratifikasi Protokol Kyoto, Amerika malah mangkir. Padahal Amerika punya reputasi penyumbang emisi terbanyak. Runyamnya lagi, Amerika justru yang paling santer berkoar soal global warming dan menyeru negara-negara berkembang supaya jangan mengeksploitasi hutan mereka. Maklum, hutan di Amerika sudah bablas dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sama saja mematikan perekonomian mereka.

Rio Summit 1992 dan Protokol Kyoto 1997, telah menyebutkan adanya pengurangan emisi dari negara-negara maju. Negara Eropa diminta untuk mengurangi delapan persen penggunan emisi, AS tujuh persen dan Jepang enam persen.

Pengendalian yang dapat dilakukan terhadap pemanasan global itu, antara lain mengurangi produksi gas Co2 dengan mengurangi pemanfaatan bahan bakar fosil dan produksi gas rumah kaca.

Menghentikan penggundulan hutan, serta penghutanan kembali secara besar-besaran untuk menciptakan wilayah serapan gas CO2. Serta melokalisasi gas CO2 atau dengan menangkap dan menyuntikkannya ke dalam sumur-sumur minyak bumi untuk mendorong minyak bumi ke permukaan.Banyak solusi telah ditawarkan untuk mengurangi dampak pemanasan global seperti menanam pohon untuk menyerap gas karbon dioksida yang ada di udara, mengurangi penggunaan barang-barang yang tidak dapat didaur ulang, mengurangi emisi CFC, dan sebagainya. Alquran lebih jauh membahas solusi permasalahan tersebut dari sikap preventif yaitu dengan tidak berlebih-lebihan atau tidak bersikap boros (Al-Furqan:67).

Mengganti bahan bakar fosil dengan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan “renewable”

Pertemuan-pertemuan internasional seharusnya membahas mengenai standar hidup maksimal. Standar hidup maksimal meliputi gaya hidup, pemakaian rumah, penggunaan air, atau yang sejenisnya. Gaya hidup berlebihan seperti memiliki pakaian, sepatu, dan perhiasan yang jumlahnya sangat banyak padahal penggunaannya sangat jarang, perlu dibatasi.

Penggunaan mobil yang hanya berpenumpang 1 atau 2 orang dapat menyebabkan pemborosan sumber energi. Pembangunan rumah yang memiliki kamar sangat banyak padahal hanya digunakan oleh beberapa orang juga perlu dibatasi. Penggunaan air dalam rumah tangga perlu diatur sesuai dengan kebutuhan dasar dan jumlah orang yang ada di rumah tersebut.

Rasulullah telah mengingatkan kita bahwa apa yang ada di dunia ini akan sirna dan apa yang kita berikan adalah kepunyaan kita sesungguhnya di akhirat. Karena itu, pemilikan atau penggunaan barang yang berlebihan sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Islam menuntun agar setiap manusia lebih banyak memberi daripada memiliki.

Solusi permasalahan pemanasan global tidak hanya terkait dengan mengubah energi fosil menjadi energi biofuel atau energi alternatif lainnya. Menurut Alquran, semua tindakan berlebihan pada akhirnya akan merugikan manusia. Penggunaan sumber energi massal akan menyebabkan output dalam jumlah massal. Bahan apapun apabila dibuang dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang cepat, pasti akan mempengaruhi keseimbangan lingkungan.

Mengubah sumber energi dari energi fosil menjadi energi biofuel tidak menjamin lingkungan akan aman, sebab pembakaran biofuel pasti akan menghasilkan polutan dalam jumlah massal dan dalam waktu yang cepat. Penggunaan energi hendaknya bersumber dari energi yang paling mudah didapatkan, paling murah biayanya, dan paling mudah mengoperasikannya di suatu daerah.

Penyeragaman Pertanian yang dituding menjadi pemicu pemanasan global (Global warming) karena penggunaan pupuk, peptisida, dan konversi lahan dari hutan menjadi pertanian perlu juga dikaji. Sentralisasi yang dilakukan oleh orde baru terhadap pola makan bangsa Indonesia menyebabkan ketergantungan rakyat Indonesia terhadap beras sangat tinggi. Dulu beberapa kelompok masyarakat di Indonesia punya sumber-sumber pangan alternative.

“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya” (Ar-Rum ayat 10)

“Dan takutlah kamu kepada suatu hari diwaktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan dari padanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong”(Al-Baqarah ayat 123)

(Eddy Prazet, DVM., Staf Ahli Drupadi Foundation)

 

 



Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: