Hari Yang Menyebalkan Di Istana Sa’addudin

3 01 2009

saad1Sejak surat dilayangkan ke Bupati Bekasi tentang keinginan para pimpinan kepemerintahan yang paling terkecil yaitu RT dan RW untuk bertemu dengan Bupati Bekasi yaitu Drs H. Sa’addudin MM guna menyampaikan permasalahan banjir di perumahan Vila Mutiara Gading yang tak pernah terselesaikan, barulah kami mendapat kabar pada hari yang ke-19 bahwa permohonan kami ingin bertemu dengan Bupati dikabulkan dengan agenda nomor 2088 dan pertemuan tersebut di atur melalui Sekretaris pribadi bupati yaitu hari senin tanggal 22 Desember 2008 jam 08.30 walau semula dijadualkan jam 09.00 mengingat ada perhelatan peringatan Hari Ibu di Kantor Kabupaten Bekasi.

Hari itu tanggal 22 Desember 2008 adalah hari yang sangat menyebalkan, buruknya pelayanan di kantor kabupaten Bekasi dengan birokrasi yang dijalankan secara tidak profesional. Betapa tidak seorang Bupati yang di usung oleh Partai Keadilan Sejahtera dengan jargon ” Bersih Peduli Profesional ” enggan menemui rakyatnya, enggan mendengar segala persoalan banjir untuk dijadikan sarapan pagi. Memang kedatangan kami membawa cerita pahit getir akan banjir yang selalu hadir pada musim penghujan, bukan datang dengan membawa upeti atau sodoran proposal yang bisa mendatangkan pemasukan kas daerah.

Ke-engganan Sa’addudin selaku orang nomor 1 di Bekasi menemui kami menandakan pencitraan buruk pada birokrasi di Kabupaten Bekasi, pertama bahwa pertemuan kami sesungguhnya sudah dalam agenda kerja bupati, kedua persoalan banjir yang kami ketengahkan merupakan representasi seluruh perumahan yang ada di Kabupaten Bekasi atas lemahnya pengawasan dan penindakan terhadap pengembang yang membangun perumahan tanpa memperhatikan drainase dan aspek lingkungan.

Lucunya saat bupati enggan menemui kami justru mendelegasikan Pak Ocha dari Dinas Pengairan yang mewakilkan bupati (baru beberapa saat diberitahu oleh bupati) tidak dapat berbuat banyak memberikan solusi tentang banjir hal ini dapat dimaklumi karena kapasitasnya hanya pada ruang lingkup pengairan saja. Kenapa Sa’addudin jauh-jauh hari tidak mengkoordinasikan dengan instansi terkait misalnya Dinas Perumahan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Lingkungan dll ? Sehingga pemecahan masalah banjir di kabupaten bekasi dapat ditarik benang merah.

Justru Sa’addudin sibuk menginstruksikan para camat dan anak buahnya untuk mempersiapkan jika banjir datang bukan penanggulangan masalah banjir itu sendiri secara komprehensif.

Tapi jika kita mendengar nasehat atau ceramah dari Sa’addudin yang sangat kental mengutip ayat-ayat suci dan Al-hadits seolah kita menjadi teduh dalam performa keshalehan. Sangat disayangkan performa ini memiliki dua ruang ganda yang berbeda, performa kesalehan dan performa mengaktualisasikan realitas seolah berdiri sendiri.

Jika kami kecewa terhadap attitude Bupati Bekasi wajar saja, karena saat PILKADA mayoritas pemilih diperumahan kami mempercayakan Sa’addudin untuk memimpin Bekasi. Apalagi setelah beliau mendaftarkan diri di KPU Bekasi. Malam harinya Sa’addudin menemui kami dengan performance santri serta meyakinkan kami dengan retorika keberpihakan kepada rakyat tentu dengan bumbu jargon PKS yang populer ” Bersih Peduli Dan Profesional “

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkritik terhadap kebijakan yang beliau jalankan agar kontrol rakyat terhadap pemerintah berjalan, sehingga kekuasaan yang diamanahkan dapat dijalankan dengan baik.

Salah satu ujian Sa’addudin tinggal ditentukan, apakah beliau berpihak kepada rakyat atau berpihak kepada pengembang dengan meng-iyakan atas serah terima perumahan Vila Mutiara Gading dari PT. ISPI Pratama ( Pengembang ) dengan pemerintah kabupaten dengan syarat layak dan kepatutan.

Kita lihat saja nanti !

Agustian ( Ketua Drupadi Foundation )


Aksi

Information

7 responses

7 01 2009
eddy prazet, DVM

Ass WW. Tuan Agustian…, aku benar-benar pahami tulisanmu karena sepanjang pengetahuan saya pada umumnya sebuah partai yang berkedok agama mempunyai umat 50% uztad selebihnya adalah penjahat!!! Wass.

9 01 2009
nurul

Asslm. Ya wajar saja, Sa’aduddin ini kan manusia meskipun dia awalnya ustadl, mesti punya kelemahan. Diantaranya ingin dunia (harta) lihat aja dulu tidak punya apa-apa sekarang sejak jadi Dewan selama 7 tahun saja mobil mewah sudah tiga, rumah asalnya tidak punya sekarang ada 3 (tiga).
Kata-kata maklum itu biasanya dilontarkan oleh para penggemar “pecandu PKS” yang ingin dapat kesempatan meskipun banyak konstituen/warga PKS yang masih miskin. Dan ini tidak akan dirisaukan karena setiap da’wah (ceramah) orang-orang penggede PKS itu dianggap ghonimah.
Padahal kalau dilihat dari perspektif Islam Pemimpin harusnya tidak boleh menumpuk harta hingga mobil 3, karena harusnya harta itu bisa dipakai membantu ummat Islam komunitas PKS yang masih miskin.
Apalagi masalah kepemimpinan pemerintahan, biasanya dalam ceramah dinyatakan Orang islam harus menguasahi. Itu memang bagus tetapi harus tetap berusaha dengan baik mendengarkan rakyatnya. Dia itu ustadl tentunya sudah tahu bagaimana Islam mengajarkan menjadi pemimpin seperti dicontohkan para pendahulu, mulai dari Rosulullah, Abu Bakar, Umar Bin Khatab sampai Umar Bin Abdul Azis. Jadi meskipun itu dari PKS yang katanya da’wah Islam kenyataannya hanya lipstik belaka. Ummat Islam ini yang kurang cerdas dalam menganalisis sehingga gampang dibodohi dengan dikemas da’wah. Memang kita harus mencari pemimpin yang muslim, tapi harus bisa melihat bagaimana aktivitas orang tersebut.
Islam tidak menyusuh sholat saja, puasa saja atau haji saja, tetapi harus juga beramal shlaleh memberi manfaat pada sesama dengan prioritas utama kaum dhu’afa (lemah/miskin). kalau tidak berarti belum menjalankan perintah Alloh swt yaitu ber-iman (ibadah mahdloh) dan ber-amal sholeh (ghoiru mahdloh).

23 01 2009
Sumardi

Assalamu’alaikum

Semoga perjuangan anda berhasil, dengan niat yang lebih baik dan hanya mengharap Ridlonya-Nya, bukan yang lain. Alangkah indahnya kalau sesama saudara saling menutup aib, bukan menyebar kekhilafan saudaranya yang belum tentu benar adanya, tabayunlah. Hindari perjuangan anda dari hal-hal yang kurang bijak, dengan hal-hal yang akan menambah berat beban perjuangan anda. Mungkin saudara anda telah berupaya namun tentunya masih ada halangan-halangan, yang baiknya kita semua mengingatkan dengan bijak dengan tidak saling memojokan, itu baiknya. Kalau ada pelanggaran hukum sampaikan lewat jalur yang ada, Saya lebih suka mampu melihat gajah didepan mata daripada harus bersusah payah mencari semut diseberang ,saya lebih senang irama yang menyejukan dan penuh kedamaian, bendera tidak harus dikibarkan tingi-tinggi kalau rendahpun orang akan menyapanya, saya tidak mau memakan bangkai saudara saya sendiri. Semoga kita semua masih banyak watu untuk belajar lebih bijak, Insya Alloh . Selamat Berjuang demi Kebenaran dan Keadilan dengan Bijak dan Penuh Hikmah hingga kematangan dan kualitas diri makin bersinar. Wassalam

23 01 2009
Agustian

Salam,
mengingatkan adalah pertanda bentuk rasa kasih sayang, kekeliruan terbesar adalah membiarkan kesewenang-wenangan atas arogansi kekuasaan yang telah di amanahkan. Semoga kita semua dapat membumikan fungsi ke-khalifaan ” rahmatan lil alamin ” selamat berjuang menegakan keadilan se-adil-adilnya bebas dari rasa kesamaan golongan dan selalu berpihak kepada kaum mustad’afin

8 02 2009
hati bening

Ass. perjuangan tanpa keiklasan bagaikan lumpur diatas batu , bersih tanpa sisa ketika tersiram kepamrihan… tentu ketemu bapak bupati bukan tujuan akhir perjuangan anda , (semoga.. perlu tanya pada rumput yg bergoyang) dan bukan hasil akhir yg anda perjuangkan. Toh setelah ketemu bupati bukan berarti banjir akan usai, Tengok jakarta , kumisnya ampek abis dicabut toh banjir ngak usai juga… sangat sayang kalo perjuangan yg mulai itu kalian jadikan lumpur yang tiada guna…. selamat berjuang tanpa senjata dan bendera … silahkan terikan dengan lantang, aku berjuang demi….buuannnnjirrrr, buuuaannjiiiirrr, buaannntuuu………………

salam banjir selalu./HB

13 04 2009
Membran

Asw. Pertama, semua yang berkepentingan, menurut saya, harus memperhatikan proses serta tujuannya. Proses pelaporan dan pemrosesan suatu masalah yang diadukan; apakah benar adanya sudah sampai ke Bupati atau hanya sekpri nya saja (maaf, bukannya saya merendahkan jabatan sekpri). Mengapa, karena sepak terjang sekpri bisa diluar kehendak Bupati. Jadi, jika ada kekeliruan Bupati bisa saja itu kealpaan beliau sebagai manusia, atau mungkin juga karena tindakan sekpri nya sendiri (juga bisa disebabkan ambisi sekpri tersebut). Orang-orang di “dekat” Bupati yang sebetulnya “kurang dekat” atau malah “dekat padahal jauh” itulah yang justru menciptakan keruwetan (menambah) masalah, bukan membantu mengurai masalah.
Analisis saya yang lain atas di utusnya kasie. pengairan, menurut saya cukup lumrah. Karena terkait dengan banjir,mungkin kesibukan bupati yang tidak bisa menemui warga VMG,dan Bupati sendiri yang menugaskan kasie.pengairan tersebut. Sang kasie.pengairan tersebut secara tidak profesional mengatakan “saya tidak mengetahui apa-apa”. Ini harus di kroscek.
Menurut saya,kasie.-kasie yang lain harus dilibatkan disamping pihak developer. Lebih jauh tentang proses masalah ini, kaya’nya ga adil deh kalo cuma nyalahin/mempertanyakan profesionalitas bupati sekarang. karena pembangunan VMG dilakukan jaman bupati sebelumnya. Analisis AMDALnya gimana? diterapin engga tuh ama bupati sebelumnya? kalo engga diterapin, berarti itu kesalahan besar. dan yang kena susahnya buapti sekarang. Penanganan banjir kan engga gampang alias rumit or complicated bin ribed. Yang pasti, masalah ini masalah yang berharga bagi semua pihak untuk introspeksi dan terus-menerus memperbaiki diri. mudah2an. Amin

Kedua, tujuan pelaporan masalah. Mau ketemu bupati atau mau menyelesaikan masalah(banjir). Mungkin sebetulnya yang dipilih yang kedua(nyelesaiin banjir), tapi mungkin juga sekalian mau tujuan yang pertama(ketemu bupati). Tapi menurut saya, kok malah aneh ya, tujuan yang pertama gagal, malah menyerah (maaf kalo saya menilai menyerah) untuk menggapai tujuan kedua. Hati-hati bapak/ibu warga VMG atau hati-hati bapak/ibu pengurus/pengelola yayasan drupadi dalam memperjuangkan kepentingan warga sendiri. Bisa jadi anda sendiri didompleng kepentingan lain, menjatuhkan citra bupati dengan membesarkan masalah yang bukan inti masalah. atau mungkin hati-hati (maksud saya: jaga emosi dan ambisi). Saya tidak menakut-nakuti, tapi saya khawatir akan adanya perpecahan. Ketika seorang yang baik atau dianggap baik(mudah2an demikian dan bisa terus diingatkan demi kebaikan) memimpin kab.bekasi- lalu tercitrakan buruk oleh sesuatu yang bukan sebenarnya, maka ini benar-benar mengurangi jumlah pendukung kebaikan. kalo orang yang baik berkuasa,tidak/belum bisa menyelesaikan masalah, kenapa tidak kita tunggu beliau menyelesaikan masalah tersebut, tentunya dengan kontrol dan peran kita sebagai warga. apakah kita harus buru-buru mencari orang lain dari golongan lain yang belum jelas kebaikannya dan belum jelas kejujurannya?. WaALLAHU a’lam

15 04 2009
Agustian

Salam,
waduh kita ga pernah berpikir jauh soal kepentingan politis, soalnya DF selalu menjaga independensi dan kepemihakan terhadap kepentingan umat/rakyat. Kritik yang di arahkan kepada Sa’dudin merupakan sentilan agar Sa’dudin bekerja lebih memihak dan profesioanal dengan begitu pencitraan birokrasi di Kabupaten Bekasi menjadi indah dan caktik, setuju kan..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: