Dari TPS 53 ; Suarakan Pesan Wakil Rakyat Tentang Banjir

15 04 2009

life-jacket-vest-baju-pelampung-150x150Tanggal 9 April 2009 perhelatan Pemiliham Umum untuk memilih wakil rakyat digelar serentak diseluruh pelosok tanah air dengan biaya sebesar 21,8 trilyun rupiah yang berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Tentu jumlah biaya yang fantastik harus di-imbangi oleh terpilihnya wakil rakyat yang cerdas, berkualitas dan dekat dengan konstituennya.

Adalah mementum yang sangat tepat bila TPS 53 di design untuk menyampaikan sebuah pesan kepada wakil rakta terpilih dengan amanah yang dinamakan ” TRIPERA 53 ” Tiga Pesan Rakyat TPS 53 yang isinya agar dibuatkan UU / Perda yang mengatur tentang tatacara pendirian perumahan yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan kesejahteraan, agar dibuatkan UU / Perda yang memberikan jaminan keselamatan dan perlindungan atas terjadinya bencana alam maupun bencana sosial dan dibuatnya master plant banjir di wilayah kabupaten Bekasi.

Pesan-pesan itu di representasikan dalam bentuk happening art di TPS dengan memakai baju pelampung yang dikenakan saat mencontreng, dapur umum dan pesan yang dituliskan pada empat kain putih untuk wakil rakyat baik DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten dan DPD Provinsi. Ditambah alunan suara Mas Dewo yang sarat dengan lagu-lagu kritik sosial.

Drupadi Foundation mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah mempublikasikan ( teman-teman wartawan media cetak dan elektreonik) sehingga dapat diketahui oleh publik terutama pengambil kebijakan. Semoga Banjir yang kerap kali datang setiap tahunnya dapat dilawan dengan rasa sadar bahwa keseimbangan alam semesta menjadi sahabat dan cerdas ketika kita “ngeh” dan menyegerakan mencari solusi yang tepat.

 ” Kliping Dari Sahabat Jurnalis”

Kamis, 9 April 2009 | 22:01 WIB

TPS Bernuansa Banjir di Tarumajaya

Bekasi, Warta Kota

Anang Ma’ruf (35) melepas baju pelampung yang baru dikenakannya. Seorang petugas berpakaian hansip (pertahanan sipil) membantunya melepaskan baju warna oranye itu. Sang petugas lalu meminta Anang memasukkan surat suara yang baru dicontrengnya ke kotak suara.

“Saya senang ada inisiatif seperti ini. Biar mereka yang terpilih ingat bahwa persoalan banjir di perumahan ini harus segera diselesaikan,” ujar Anang seusai menggunakan hak pilihnya,

Tak hanya Anang yang mengenakan baju pelampung. Setiap warga yang hendak memberikan suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 53 Perumahan Villa Mutiara Gading, Setia Asih, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Kamis (9/4) pagi itu tidak keberatan mengenakan baju pelampung saat pencontrengan.

Sebidang tanah lapang yang dijadikan lokasi TPS itu memang dihias warga layaknya tempat penampungan korban banjir. Di pintu masuk TPS teronggok perahu karet. Warga yang hendak memberikan suara diminta duduk antre di tempat yang disediakan. Begitu tiba gilirannya, warga yang dipanggil kemudian diberi baju pelampung. Warga melakukan pencontrengan surat suara sembari mengenakan baju pelampung itu.

Usai memberikan suaranya, warga yang keluar dari bilik suara tampak antusias menuliskan pesan-pesan sosial di lembaran kain berukuran 3 m x 1 m. Terbentang empat lembaran kain yang bisa menjadi media penulisan oleh warga.

Masing-masing lembaran kain itu ditujukan untuk para wakil rakyat, baik itu DPRD Kabupaten Bekasi, DPRD Provinsi Jawa Barat, DPR, maupun DPD. Isinya beragam, seperti: Udah Banjir Baru Mikir; Jangan Janji Doang yang Penting Bukti; Kami Warga VMG Sudah Jenuh Dengan Banjir; dan sebagainya.

Usai membubuhkan tulisan pesan, warga yang keluar dari area TPS mendapat segelas mi seduh dari dapur umum. Tinggal dikasih air panas dan disantap di lokasi atau dibawa pulang, terserah warga. Benar-benar mirip penampungan warga yang terserang musibah banjir.

“Semua ini hasil swadaya warga, bukan sumbangan simpatisan partai mana pun. Ini cara kami menyampaikan aspirasi setelah bertahun-tahun tak dihiraukan. Sejak tahun 2001 tempat ini jadi langganan banjir,” tutur Ujang Suherman, Ketua KPPS 53.

Musik dan lagu

Sepanjang pelaksanaan pemungutan suara itu, warga juga dihibur alunan lagu yang dibawakan band dadakan bentukan warga setempat. Mereka beranggotakan sekelompok warga dari Komunitas Gempar 15.

“Nama Gempar 15 itu karena kebetulan kami tinggal di RW 15, bukan dari simpatisan partai nomor 15,” tutur Ruslan, Ketua RW 15, tempat TPS itu berada. Penyajian lagu dimaksudkan menggugah kesadaran warga agar mendatangi TPS untuk memberikan suaranya. Begitulah, hingga Warta Kota meninggalkan lokasi, lagu-lagu dari Iwan Fals pun berulang-ulang dinyanyikan grup band dadakan itu. “Wakil Rakyat. Seharusnya Merakyat.” (Ichwan Chasani/Warta Kota)

Pemilih di Desa Setia Asih Pakai Pakaian Pelampung

Kamis, 09 April 2009 , 13:43:00

BEKASI, (PRLM).- Warga RW 15, Desa Setia Asih Kec. Tarumajaya, Kab. Bekasi menyampaikan aspirasinya dengan cara yang unik di hari pemilihan umum legislatif. Setiap pemilih yang akan masuk pada bilik suara wajib dikenakan pelampung. Bukan tanpa alasan tiga Tempat Pemungutan suara, yaitu TPS 53, TPS 54, dan TPS 55 di RW 15 ini menyelenggerakan dengan cara unik.

“Sebagai bentuk aspirasi kita, dengan diadakannya pileg ini. Para calon legislatif yang jadi nantinya dapat membawa aspirasi warga Tarumajaya yang tiap tahun wilayah menjadi langganan banjir,” ucap Ketua RW 15, Desa Setia Asih Kec. Tarumajaya, Kab. Bekasi Ruslan Hemon saat ditemui saat berlangsungnya pemungutan suarat di TPS 53, Kamis (9/4).

Tidak hanya itu, kekompakan warga RW 15, Taruma Jaya ini juga ditunjukan dengan mencantumkan Tripera (Tiga pesan Rakyat) RW 15. Mereka meminta kepada siapapun caleg yang nantinya duduk sebagai wakil rakyat dapat membuat undang-undang (UU) atau peraturan daerah (perda) tentang tata cara pendirian perumahan yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan kesejahteraan, serta UU atau Perda tentang kewajiban melindungi rakyat dari bencana. (A-186/kur)***  (Sumber: Pikiran Rakyat)

Pemilu – pemilihan legislatif

TPS Unik di Bekasi, Tiap Pemilih Wajib Berpelampung

Kamis, 9 April 2009 – 15:27 wib

Tedi Suteja – Global

BEKASI – Ada hal menarik di TPS 53 yang berlokasi di Perumahan Villa Mutiara Gading RT04/RW15, Desa Setia Asih, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Pemilih di TPS itu diwajibkan mengenakan pelampung.

Pelampung ini harus dikenakan para calon pemilih saat mereka melakukan pencontrengan. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk kritik warga perumahan yang sudah terbiasa dengan banjir di lingkungan meraka saat musim penghujan datang.

“Selain menggunakan pelampung, warga juga menuliskan pesan-pesan singkat kepada para caleg yang sedang berlaga di spanduk yang telah disiapkan,” kata Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Suherman di lokasi, Kamis (9/4/2009).

Tema banjir ini, lanjutnya, sengaja dipilih untuk menggugah para calon wakil rakyat yang terpilih nanti untuk memperhatikan perumahan mereka yang menjadi langganan banjir.

Warga berharap, dalam pemilihan wakil rakyat ini aspirasi warga perumahan dapat lebih diperhatikan. Pasalnya, sejak tahun 2000 hingga sekarang, pemerintah Kabupaten Bekasi kurang aspiratif dalam menangani dan menanggulangi banjir di wilayah warga Bekasi.

Meski begitu, hal tersebut tidak lantas menyurutkan semangat calon pemilih untuk berpartisipasi dalam pesta demikarsi kali ini. Pasalnya, sebanyak 70 persen pemilih sudah menggunakan hak pilihnya.
(lsi) (Sumber: okezone.com) 

Sambil Nyontreng, Warga Gelar Aksi Keprihatinan
Eko Purnomo – Bekasi, Tempat Pemungutan Suara (TPS) 53 di RT 4 RW 15  Perumahan Villa Mutiara Gading Satu, Kecamatan Taruma Jaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat menggunakan pembatas batang pohon pisang serta melakukan aksi tanda tangan sebagai bentuk keprihatinan.

Selain sebagai bentuk keprihatinan, aksi yang dilakukan di TPS 53 pada pemilu legislatif, Kamis (9/4) hari ini juga sebagai bentuk ungkapan untuk para wakil rakyat terpilih agar tidak ingkar dengan janji-janjinya.

Salah seorang warga, Ruslan kepada ELSHINTA mengatakan, coretan, baik berupa tanda tangan maupun berupa ungkapan kekecewaan melalui untaian kata-kata ini rencananya akan dibawa kepada wakil rakyat terpilih.

Warga Perumahan Villa Mutiara Gading Satu selama ini sangat mengeluhkan kondisi wilayahnya yang selalu mengalami kebanjiran saat turun hujan dan belum ada penanganan lebih lanjut dari pemerintah daerah setempat. (der) (Sumber : Elshinta)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: