Di Balik Kebelet Nonton Sang Pemimpi

1 12 2009

Satu lagi Film karya Riri Riza “Sang Pemimpi” yang diangkat dari Novel Andrea Hirata bakal  diputar serentak di bioskop-bisokop tanggal 17 Desember 2009, Film yang pasti banyak mengisahkan perlawanan hidup dari ketidakmampuan yang mengisahkan rantai kemiskinan menjadi daya dorong untuk perubahan hidup yang lebih sejahtera. Dua tokoh Ical dan Arai pasti akan menyuguhkan sebuah pesan kepada kita (penonton) bahwa harapan dan keinginan bisa terwujud bukan dari faktor keberuntungan an sich tapi dari keyakinan, kebersamaan, semangat dan kerja keras.

Seperti film pendahulunya “ Laskar Pelangi “yang  kental dengan suasana melayu di Pulau Belitung, film Sang Pemimpi tidak jauh berbeda aroma kemelayuan apalagi lokasi syuting lebih banyak menyajikan potret kehidupan Kota Manggar. Mulai dari sekolah, bioskop sampai pelabuhan ikan yang berlimpah dengan tangkapan hasil laut untuk komoditas ekspor.  Nama kota Manggar inilah yang banyak mengingatkan saya akan pentingnya hidup berbagi, komitmen dan membangun harapan-harapan. Di kota Manggar ini pula,  empat belas  tahun yang lalu mengajarkan saya untuk pertama kalinya bersentuhan dengan comunity development, hipotesa langsung civil society, penelitian sosial, akrab dengan akar rumput, bergerak ke bawah tanpa istana, tanpa kursi dan tanpa sumpah jabatan. Dari tempat  inilah semua bermula, menikmati hidup tanpa embel-embel, berjalan dan bertingkah tanpa ada maunya. Yang pada akhirnya menetapkan keteguhan (konklusi ideologis) bahwa perubahan itu harus diawali   dan dimulai melalui gerakan kebudayaan, bukan perubahan-perubahan atas akibat dari  pengaruh struktural.

Lepas dari kerumunan Mas Bintang ( Sri Bintang Pamungkas ) seorang deklarator Forum Demokrasi Islam Indonesia yang lebih memilih gerakan politik untuk menguasai piramida yg paling kerucut agar kekuasaan dapat mudah di genggam dengan begitu rasionalisasi kaum miskin lebih mudah di genre kan menjadi kaum sejahtera lahir batin. Kebetulan saat itu saya menjabat sebagai sekretaris POKJA terkaget-kaget arah paradigma gerakan yang bermuara pada kekuasaan. Keyakinan dan keteguhan Mas Bintang dalam mengatasi carut marut bangsa ini adalah amal kebaikan dengan teori-teori politik kekuasaan yang diyakininya. Walau akhirnya saya berpisah dengan jalan yang membawa keyakinan masing-masing. Saya lebih memilih ke grass root sebagai ladang amal sholeh, Mas Bintang memilih jalur politik kekuasaan sebagai ijtihad yang diyakininya.

Keyakinan itu membawa saya untuk mengeksplorasi keingintahuan dunia akar rumput. Sekitar medio September 1995 dengan menaiki pesawat baling-baling Fokker 27 Flight No. MZ 104 ( saya ingat no flightnya karena satu-satunya yang berangkat pada pagi hari dari Soekarno-Hatta, dan MZ 104 telah jatuh yang menewaskan seluruh penumpang di kawasan hutan dekat bandara ) membawa saya ke bandara Buluh Tumbang Tanjung Pandan. Dari bandara menuju Manggar, sepanjang jalan  saya banyak menyaksikan sisa-sisa ekplorasi penambangan timah. Sumber kekayaan yang banyak dinikmati kaum pemilik modal ketimbang lebih banyak mengangkat harkat martabat penduduk belitung itu sendiri. Kini timah telah habis di hisap oleh komprador kapitalis. Yang masih nampak terlihat rerimbunan pepohonan hijau sesekali saya masih menyaksikan monyet melintas sambil bercanda ria seolah menikmati takdir yang Tuhan telah berikan.

Dengan jarak tempuh kurang lebih dua jam akhirnya saya tiba di Kota Manggar, satu-satunya penginapan sekaligus travel yang menjemput saya dibandara adalah hotel Nusa Indah. Setelah rehat di hotel kelas melati itu, saya mulai melangkah menemui akar rumput ditemani oleh sahabat baru saya yang bernama Yusril penduduk asli kota Manggar. Akar rumput yang menjadi objek kegelisahan saya adalah komunitas nelayan. Saya mengunjungi rumah-rumah nelayan yang berukuran 3 X 4 meter terbuat dari bilik bambu. Mendengar kisah keluh kesahnya, mendengar harapan-harapan hidupnya, menyaksikan semangat perlawanan ekonomi profan (duniawi) yang tidak berpihak kepadanya.

Malam harinya para nelayan Manggar berkumpul di rumah Yusril, saya memberikan pencerahan dan motivasi yang membangun harapan-harapan. Membangun kelompok nelayan yang berangkat dari gerakan penyadaran bahwa kesejahteraan itu bukan milik orang beruang saja. Malam itu, dengan pengetahuan yang baru seumur jagung, seolah-olah saya sudah seperti sinterklas saja.

Karena masih jamannya orde baru kegiatan pertemuan di rumah Yusril di endus oleh intelejen, seperti biasa berwatak refresif yang mengatasnamakan stabilitas keamanan. Berita pertemuan nelayan juga sampai ditelinga para pemilik modal. Mereka (pemilik modal) telah menjadikan nelayan sama halnya dengan alat-alat produksi tangkapan ikan seperti kapal dompeng, kail pancing, dan ransum. Nelayan diberikan kemudahan fasilitas peralatan tangkapan ikan di laut, namun hasil yang mereka tangkap harus diberikan (dijual) kepada para pemilik modal dengan harga yang tidak berdasarkan mekanisme pasar, harga berdasarkan kemauan pemilik modal. Saya menyaksikan perihnya pelelangan ikan yang tidak tercium bau amisnya ikan.

Di kota Manggar saya banyak merenung dan belajar. Memulai hidup dengan membumikan suara-suara kaum proletar. Walau pada akhirnya saya harus kalah untuk membobol kekuatan para pemilik modal yang memang sangat establish. Saya yang masih lemah, saya yang belum kuat, saya yang baru pertama kali menemui akar rumput akhirnya pulang dengan catatan-catatan panjang yang memuat pahit getir nelayan di Manggar Pulau Belitung. Saya tinggalkan Manggar dengan kekalahan secara profan, pernah suatu hari Yusril berujar “ jika telah meminum air di Manggar, kelak suatu hari akan berkunjung kembali ke Manggar”.

Empat belas tahun lamanya, saya rindu dengan nelayan Manggar. Kebiasaan pada malam hari minum kopi di kedai yang dipenuhi oleh penduduk Manggar dengan bersepeda yang jumlahnya mencapai ratusan. Kini Manggar hanyalah kenangan, Setidak-tidaknya film Sang Pemimpi sebagai jembatan silaturahmi ruhaniyah dengan Nelayan Manggar  dapat ber-resonansi dengan pertalian alam semesta.

17 Desember nanti berapa hari lagi ya ?


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: