COMMUNITY BASED LEARNING, SEBUAH UPAYA MEMBANGUN MASYARAKAT PEDESAAN

31 03 2010

Menjadikan masyarakat yang maju dan peduli terhadap pembangunan desa adalah bukan suatu tugas yang mudah (easy duty). Akan tetapi seberat apapun hal itu jika kita dapat memberikan  inspirasi kepada masyarakat dan mereka mengejewantahkannya dalam kehidupan sehari-hari, itu adalah sebuah tugas mulia dan patut diacungkan jempol.

Memberikan contoh (exemplary attitude), membagi pengetahuan (sharing knowledge) dan mengajak untuk berbuat terbaik (doing the best) adalah beberapa rangkaian kegiatan yang menjadikan sebuah masyarakat terbangunkan dan menyadari bahwa dirinya mempunyai peran dan bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu menstimulasi berbagai fenomena di dalam masyarakat melalui proses pelibatan masyarakat dalam pembelajaran adalah sebuah karya nyata yang ditunggu-tunggu.

Community based learning (pembelajaran berbasis pada masyarakat),  adalah sebuah pendekatan yang dapat digunakan dalam rangka melibatkan seluruh komponen masyarakat desa mulai dari lapisan elite sampai pada grass root dalam mempelajari kebutuhan-kebutuhan lokal, sehingga dengan pendekatan ini masyarakat diajak ikut serta (take part) dalam memunculkan kepeduliannya terhadap pembangunan di wilayahnya sendiri.

Community based learning juga merupakan upaya mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam menerjemah serta mengurai berbagai  kondisi yang ada dalam lingkungannya. Dengan kata lain setelah mengalami pembelajaran masyarakat harus memiliki good will untuk menadirkan ketertinggalan menjadi sebuah kemajuan masyarakat di berbagai lini kehidupan.

Dapat kita lihat di masyarakat,  ada beberapa benefit yang dapat  diperoleh komuniti melalui pendekatan ini, di antaranya adalah (1) menimbulkan kepedulian terhadap perkembangan pembangunan wilayah, (2) memacu kompetisi yang sehat dan hasrat membangun di antara masyarakat sekitarnya, (3) menggali potensi keunggulan lokal yang selama ini kurang diperhatikan, (4) memberikan efek positif sampai pada tingkat grass root untuk dapat membantu mewujudkan masyarakat mandiri dan bangga terhadap kemajuan desanya.

Untuk merealisasikan hal tersebut di atas eksistensi sebuah institusi pendidikan masyarakat amatlah diperlukan. Menjadi jembatan (bridge) untuk menjadikan masyarakat yang peduli dengan pembangunan adalah sebuah peran yang sangat mulia dan tentunya menjadi suatu yang bernilai bagi masyarakat. Salah satu institusi pendidikan masyarakat yang berperan dalam membangun masyarakat pedesaan organisasi bercirikan civil social organization 

Civil Social Organization

CSO telah memposisikan dirinya sebagai sebuah lembaga yang konsern terhadap perkembangan pembangunan desa, terutama dalam mengupayakan peningkatan manajemen kinerja aparatur desa yang selama ini masih menunjukkan kualitas pelayanan yang rendah atau apa adanya (as is) terhadap masyarakat. Berbagi pengetahuan, memberikan contoh dan membantu penyelesaian terhadap beberapa masalah yang timbul dalam pelayanan public (public service) adalah beberapa aktifitas yang dilakukan organisasi CSO

Membangun desa. Dengan pendekatan di atas tidak menutup kemungkinan akan ada attitude turunan lainnya yang muncul di antaranya adalah kepedulian (care), bertanggung jawab (responsible),dan kebersamaan (togetherness). Dengan demikian dapat diharapkan pelibatan komunitas dalam pembelajaran akan memacu masyarakat untuk maju lebih cepat dan mengalami perubahan signifikan.

PROSES PEMBELAJARAN

Kaitan dengan pelibatan masyarakat dalam pembelajaran di atas, Hamzah Uno berpendapat pembelajaran adalah sebuah aktifitas belajar yang di dalamnya terjadi proses interaksi di antara peserta didik dan pengajar. Proses ini berlangsung selama proses belajar mengajar ini dilakukan. Artinya ada proses mengalami (learning experience) terhadap objek pengetahuan yang ditransfer dan diaktualisasi dalam kehidupan nyata.

Bloom menambahkan ada tiga hal yang akan muncul ketika seorang mengalami proses belajar, yakni (1) kognitif domain (product knowledge), berbagai wawasan dan pengetahuan  yang dimiliki setelah seeorang mengalami proses belajar, (2) Afektif domain( attitude), berbagai perilaku baik yang diharapkan menjadi ukuran keberhasilan pendidikan yang telah dilakukan, (3) Psikomotorik domain (life skill), berbagai ketrampilan yang akan diperoleh seseorang setelah mengikuti proses pembelajaran dan pelatihan.

Keberhasilan proses pembelajaran yang dieksekusi oleh seorang pengajar tentunya tidak terlepas dari keberhasilan memenej sebuah kelas (classroom management) yang aktif dan responsive. Artinya sebuah kelas yang efektif hendaknya dapat dijalankan dengan menggunakan berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas (classroom management). Pertama, behavior modification adalah sebuah pendekatan yang selalu diiringi dengan pembentukan perilaku peserta didik ke arah yang lebih positif dalam proses pembelajaran.

Peserta didik dapat mereduksi berbagai polah yang merugikan diri dan orang lain ke arah yang lebih baik, sehingga diharapkan perilaku yang muncul dapat menjadi contoh di lingkungannya.

Kedua, social emotional climate adalah sebuah suasana emosi yang diupayakan tercipta dalam membangun atmosper belajar yang kondusif. Artinya setiap pelaku SDM merasakan adanya kedekatan dan saling mengerti di dalam lingkungannya. Saling menghargai, membantu, meringankan, memperhatikan orang lain adalah deretan sikap yang akan muncul ketika pendekatan ini selalu dicoba untuk dikedepankan oleh pengajar di hadapan pelaku SDM. Dengan kata lain hampir dapat disimpulkan bahwa sulitlah kiranya menemui dampak negatif yang dapat dimunculkan dari upaya pendekatan social emotional climate ini.

Ketiga, Group Process adalah sebuah pendekatan yang mengandalkan kerjasama tim sebagai sebuah realisasi manusia makhluk sosial. Dalam proses pembelajaran pelaku SDM diajak untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran secara bersama-sama. Juga dibudayakan sikap cohesiveness (kelekatan/persatuan) kelompok dan bertanggung jawab secara bersama-sama dalam mengaktualisasikan pengalaman belajar di masyarakat.

SIMPULAN

Mewujudkan “Community Based Learning” sebagai sebuah pendekatan bagi organisasi yang bercirikan civil social organization  dalam membangun masyarakat pedesaan adalah sebuah keniscayaan. Dengan pendekatan ini dapat diharapkan munculnya reaksi positif masyarakat untuk peduli dan bertanggung jawab secara bersama-sama dalam mengaktualisasikan konstruk perencanaan pembangunan pedesaan.

Selain itu pendekatan ini akan lebih optimal bila dilaksanakan melalui proses pembelajaran yang mengaplikasikan prinsip-prinsip classroom management, yakni behavior modification, social emotional climate dan group process yang merupakan laskar-laskar penunjang keberhasilan pembelajaran masyarakat.

Dengan kata lain praktek pembelajaran masyarakat yang dilakukan dengan mengoptimalkan peran pelaku SDM, pada akhirnya akan dapat membantu menggali potensi pedesaan dalam meniadakan ketertinggalan dan mengaktualisasikan kemajuan masyarakat desa ke depan.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: